Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 November 2025, 19.50 WIB

Angklung dan Tari Pendet Tampi di Ottawa, Pesona Bali dan Nusantara Hipnotis Publik Kanada

Alat musik angklung saat dibawakan di World Multicultural Festival 2025 Ottawa. (KBRI Ottawa)

JawaPos.com – Kutipan Yo Yo Ma tentang budaya sebagai landasan membangun dunia terasa hidup dalam gelaran World Multicultural Festival 2025 di Ottawa. Ajang multikultural terbesar di ibu kota Kanada itu kembali menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ratusan pengunjung dari berbagai bangsa.

Pada edisi tahun ini, Indonesia tampil mencolok lewat kolaborasi KBRI Ottawa, Indonesian Canadian Congress, Dharma Wanita Persatuan, dan diaspora Indonesia. Penampilan seni yang dibawakan tetap memukau meski suhu Ottawa mendekati 0 derajat celcius saat acara berlangsung di Horticulture Building.

Persembahan Indonesia dibuka dengan Tari Pendet oleh Nalani Gruys dan Keandra Gruys, dua dara kembar keturunan Indonesia, bersama Jasmine Daoust, warga negara Kanada. Gerakan luwes, ekspresi lembut, dan kostum Bali yang berkilau berhasil menyampaikan kehangatan budaya Bali jauh dari tanah kelahirannya.

Kelopak bunga yang dijentikkan menjadi simbol penghormatan dan ketulusan Indonesia kepada publik dunia. Momen itu menjadi bukti bahwa seni tradisional tetap hidup dan dirawat oleh generasi muda diaspora yang tumbuh jauh dari kampung halaman.

Sorak penonton, kamera yang terus menyorot, serta berbagai pujian langsung menunjukkan bahwa tarian tersebut benar-benar menggugah hati publik Kanada. Antusiasme itu berlanjut ke penampilan berikutnya ketika panggung bergema oleh alunan angklung.

Para pemain angklung dari ICC, DWP, dan pendamping pejabat KBRI Ottawa membawakan lagu Mama Mia dan Super Trouper dari grup ABBA. Melodi angklung memberi nuansa hangat bagi penonton yang menikmati irama musik bambu khas Jawa Barat tersebut.

Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, menyampaikan rasa bangganya atas respons publik yang begitu antusias.

“Publik Ottawa sangat terpukau dengan keindahan gerakan penari Pendet dan harmoni musik Angklung. Bahkan selesai penampilan, para penampil didekati oleh banyak pengunjung yang tertarik, termasuk yang mencoba memainkan instrumen angklung. Ini merupakan soft power Indonesia.”

Gita Nurlaila, President ICC sekaligus pemimpin harmonisasi angklung, menjelaskan intensitas persiapan yang dilakukan para pemain.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari KBRI Ottawa. Seminggu 2 kali kami berlatih cukup intensif, selama sekitar 2 jam, di KBRI Ottawa.”

Sementara itu, Jasmine Daoust mengungkapkan kebahagiaannya bisa tampil membawakan tarian Bali.

“Saya tertarik dengan tarian Bali sejak masih kecil. Bagi saya tarian Bali sangat indah dengan perpaduan gerakan tangan dan mata. Jadi, bisa ikut menarikannya di hadapan publik Kanada sangat berarti bagi saya.”

Keterlibatan diaspora, organisasi masyarakat, dan KBRI Ottawa menjadi bukti bahwa wajah Indonesia di Kanada dibangun melalui kolaborasi. Upaya bersama seperti ini membuat diplomasi budaya terasa hidup dan dekat dengan masyarakat Kanada.

Partisipasi Indonesia di WMF 2025 bukan sekadar unjuk seni di panggung internasional. Kehadiran itu menjadi pernyataan bahwa budaya memiliki kekuatan besar untuk menjembatani perbedaan dan memperkuat citra Indonesia di luar negeri.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore