Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 November 2025, 20.27 WIB

BRICS Hadapi Ujian Realitas dalam Ambisi Dedolarisasi Global yang Makin Mengemuka di Tengah Tekanan Geopolitik

Ilustrasi berbagai mata uang global, seperti dolar AS, euro, yuan, dan yen, yang menggambarkan dinamika persaingan dan upaya dedolarisasi dalam blok BRICS (The Lowy Institute) - Image

Ilustrasi berbagai mata uang global, seperti dolar AS, euro, yuan, dan yen, yang menggambarkan dinamika persaingan dan upaya dedolarisasi dalam blok BRICS (The Lowy Institute)

JawaPos.com - Ambisi dedolarisasi yang selama ini dielu-elukan oleh BRICS kembali memasuki fase ujian paling serius. Kelompok yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan itu berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS), namun dinamika geopolitik global membuat langkah tersebut jauh dari mulus. Di tengah retorika politik dan tekanan sanksi dari Barat, pertanyaannya tetap sama: seberapa realistis BRICS mampu menantang dominasi dolar?

Melansir The Lowy Institute, Rabu (19/11/2025), transaksi antaranggota BRICS dengan mata uang lokal memang meningkat. Namun, tantangan struktural untuk menggantikan dolar AS sebagai mata uang internasional utama masih sangat besar dan belum menemukan fondasi institusional yang solid.

Sebagai gambaran, Iran yang bergabung dalam aliansi perluasan BRICS menyoal pentingnya instrumen pembayaran alternatif untuk menghindari sanksi global. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan, "Kami ingin berdagang dengan negara lain di mana kami membayar dalam mata uang digital. Ini sudah menjadi kebutuhan bagi kami." Pernyataan ini disampaikan saat konferensi deBlock Summit, dan mencerminkan pendekatan individual negara yang mencoba mengurangi eksposur mereka terhadap dolar.

Sejak KTT BRICS pertama di Yekaterinburg pada 2009, belum pernah ada proposal formal mengenai mata uang bersama BRICS. Namun, Rusia dan Tiongkok terus mendorong pengurangan ketergantungan pada dolar melalui inisiatif seperti sistem pembayaran alternatif BRICS Pay untuk menyaingi jaringan SWIFT. Dorongan ini selaras dengan kepentingan mereka dalam menghadapi sanksi dan tekanan politik dari Washington.

Rusia mengumumkan bahwa 99,1 persen transaksi perdagangan dengan Tiongkok telah dilakukan dalam rubel dan yuan. Adapun Brasil, sejak 2023, sepakat dengan Tiongkok untuk menyelesaikan perdagangan bilateral dalam mata uang lokal. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva bahkan mengecam sistem dolar dengan menyebutnya sebagai "alat dominasi Amerika", sebuah kritik yang semakin memanaskan perdebatan global.

Namun, tidak semua anggota BRICS berada dalam garis pemikiran yang sama. India, misalnya, tetap menolak gagasan mata uang bersama BRICS. Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menegaskan, "Dolar sebagai mata uang cadangan adalah sumber stabilitas ekonomi internasional … saat ini yang kita inginkan dunia lebih stabil, bukan lebih bergejolak." Sikap ini memperlihatkan bagaimana fragmentasi kepentingan internal menjadi penghambat utama konsensus.

Kompleksitas semakin meningkat ketika Amerika Serikat menunjukkan respons agresif. Presiden Donald Trump pernah memperingatkan akan menerapkan tarif hingga 100 persen untuk negara BRICS yang membuka opsi mata uang alternatif. Ancaman ini memperlihatkan bagaimana dedolarisasi bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga arena pertarungan geopolitik.

Analisis internasional turut menegaskan hambatan strukturalnya. Ekonom senior Otaviano Canuto menilai dominasi dolar bertahan karena keunggulan likuiditas dan kepercayaan global yang sulit ditandingi. Direktur Kebijakan Moneter Bank Sentral Brasil, Nilton David, bahkan menilai bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dengan menyatakan, "Saya tidak berpikir itu akan berubah dalam dekade mendatang."

Sementara itu, anggota baru seperti Indonesia berada dalam posisi pragmatis. Meski kini bergabung sebagai anggota penuh BRICS, tujuan Indonesia lebih kepada memperluas akses perdagangan.

Seperti dikutip dari ANTARA News, Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menegaskan, "Kita masuk BRICS bukan berarti kita mendukung dedolarisasi Tiongkok dan Rusia … inisiatif kita lebih kepada ekspansi mitra dagang kita." Posisi ini menyoroti bagaimana sebagian negara melihat BRICS sebagai kendaraan ekonomi, bukan agenda geopolitik semata.

Pada akhirnya, meskipun dedolarisasi terus mengemuka sebagai narasi besar BRICS, realitas politik, ekonomi, dan geopolitik menunjukkan bahwa jalannya masih panjang. Dominasi dolar, ketidaksepakatan internal BRICS, dan tekanan eksternal menjadikan ambisi ini lebih sebagai proses bertahap daripada revolusi cepat dalam arsitektur keuangan global.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore