Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 November 2025, 06.48 WIB

Google Tetap Mengukir Dominasi Monopoli Mendekati Rp 67.000 Triliun meski ChatGPT Mengancam Dominasi Pencarian

Logo Google terlihat pada gedung perusahaan di San Salvador, El Salvador (Dok. Reuters) - Image

Logo Google terlihat pada gedung perusahaan di San Salvador, El Salvador (Dok. Reuters)

JawaPos.com - Di tengah euforia kecerdasan buatan, tembok dominasi mesin pencari Google yang dibangun oleh Alphabet justru makin tinggi. Kapitalisasi pasar Alphabet kini mendekati USD 4 triliun atau sekitar Rp 66.640 triliun dengan kurs Rp 16.660 per dolar AS, menegaskan posisinya sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. 

Hal ini bukan sekadar pencapaian korporasi, melainkan simbol bagaimana monopoli digital Google tetap relevan, bahkan ketika disrupsi AI menggusur banyak asumsi pasar. 

Sejak 2 September 2025, kapitalisasi Alphabet meningkat sekitar USD 1,3 triliun atau Rp 21.658 triliun, hampir dua kali lipat dari akumulasi kenaikan seluruh perusahaan lain dalam kelompok "Magnificent 7". Lonjakan ini terjadi setelah seorang hakim AS memutuskan bahwa monopoli Google "tidak lagi jadi ancaman besar" di era kecerdasan buatan.

Dilansir dari Financial Times, Kamis (27/11/2025), meskipun peluncuran ChatGPT sempat diprediksi akan mengikis keunggulan Google dalam pencarian daring, kenyataannya berbeda. "Pengguna justru mencari lebih banyak di Google, bukan berkurang," tulis Financial Times, menekankan bahwa posisi Google tetap stabil.

Peluncuran ChatGPT akhir 2022 lalu oleh OpenAI memang sempat menimbulkan kekhawatiran. Banyak analis memperkirakan format pencarian akan bergeser menjadi dialog AI dengan margin monetisasi lebih rendah, sehingga pangsa pasar Google berpotensi menyusut. 

Namun, meskipun awalnya menciptakan gelombang ketidakpastian, pengguna justru tetap setia pada Google, membuktikan bahwa dominasi Google tidak mudah tergoyahkan, bahkan saat model AI generatif baru masuk ke pasar.

Monetisasi layanan Google tetap kuat, meski pergeseran ke pencarian percakapan sempat dianggap dapat menggerus margin operasi hingga 14 persen. Data ini menunjukkan model bisnis utama Alphabet tidak tergoyahkan dan pengguna tetap mempercayakan Google sebagai kanal utama pencarian.

Seiring dengan itu, peluncuran model AI terbaru, Gemini 3, semakin memperkuat posisi Google. "Gemini 3 adalah model paling cerdas kami," kata perwakilan Google dalam laporan Reuters. Model ini menunjukkan kemampuan membaca layar pengguna, sebuah fitur yang krusial bagi pengembangan agen AI dan sekaligus memperkuat dominasi Google di pasar.

Selain itu, Marc Benioff, CEO Salesforce, yang telah mencoba Gemini 3, menegaskan keunggulan model tersebut dibanding pesaingnya. "Saya telah menggunakan ChatGPT setiap hari selama tiga tahun. Setelah mencoba Gemini 3 selama dua jam, saya tidak akan kembali ke ChatGPT," ujarnya, seperti dikutip Business Insider, menekankan bahwa Gemini 3 menawarkan kemampuan yang lebih unggul dan pengalaman penggunaan yang lebih canggih.

Keunggulan Google juga diperoleh dari infrastruktur riset AI yang mapan melalui akuisisi DeepMind, chip AI buatan sendiri, dan cadangan kas besar yang memungkinkan investasi jangka panjang tanpa tekanan pendapatan langsung. Selama lima tahun terakhir, Alphabet menghasilkan free cash flow sekitar USD 330 miliar atau Rp 5.497 triliun. 

Divisi cloud Google juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, kini menyumbang hampir sepertiga porsi bisnis perusahaan. Hal ini mengurangi ketergantungan pada pendapatan iklan global dan memperkuat diversifikasi bisnis Alphabet di pasar teknologi. 

Dengan semua faktor ini, kas besar, chip AI internal, cloud, dan skala pasar global, ancaman dari ChatGPT dan AI generatif tidak menggoyahkan dominasi Google. Perusahaan justru menunjukkan kemampuan beradaptasi yang meningkatkan posisinya dalam ekosistem digital.

Jika valuasi mendekati USD 4 triliun atau sekitar Rp 66.640 triliun, ini menunjukkan betapa kuat dan adaptifnya Google dalam menghadapi perubahan teknologi. Pesan yang jelas sampai ke pelaku industri dan regulator, monopoli teknologi tidak hilang begitu saja dengan munculnya AI generatif. 

Bagi siapa pun yang mengira AI akan segera menggantikan raksasa pencarian Google, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Google tetap menjadi "monumen monopoli" yang kuat, adaptif, dan relevan di era AI global.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore