Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 November 2025, 06.59 WIB

Alibaba dan Meta Berebut Kendali Era Baru Kacamata AI, Penentu Masa Depan Perangkat Konsumen Usai Smartphone

Kacamata pintar Quark Alibaba Group yang menjadi pusat kendali perangkat wearable generasi baru (Dok. SCMP)

JawaPos.com - Kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) memasuki babak transisi penting, dari perangkat eksperimental menjadi kandidat perangkat konsumen arus utama. Tren ini digerakkan oleh industri teknologi global yang mencari titik interaksi baru lebih personal setelah dominasi ponsel pintar mulai mencapai kejenuhan pasar.

Alibaba mengumumkan penjualan resmi Quark AI Glasses pada Kamis (27/11/2025) di pasar Tiongkok. Produk ini sebelumnya diperkenalkan pada Juli dan menjadi langkah konkret Alibaba untuk menancapkan posisi di segmen wearable AI.

Quark AI Glasses tersedia dalam dua varian harga: model G1 seharga 1.899 yuan atau sekitar Rp 4,4 juta, serta model S1 seharga 3.799 yuan atau sekitar Rp 8,9 juta. Perangkat ini dirancang seperti kacamata harian, dengan bingkai plastik hitam yang ringan dan nyaman untuk penggunaan sehari-hari.

Melansir South China Morning Post, Jumat (28/11/2025), perangkat ini memanfaatkan model AI internal Alibaba, Qwen, yang terintegrasi dengan aplikasi pendamping Qwen. Pengguna dapat mengoperasikan kacamata melalui perintah suara untuk menjalankan tugas praktis, termasuk penerjemahan bahasa real-time dan pencatatan otomatis.

Integrasi ekosistem menjadi keunggulan kacamata ini. Bingkai dilengkapi kamera dan layar transparan di lensa untuk menampilkan informasi kontekstual, termasuk harga barang yang dipotret, yang kemudian ditautkan ke aplikasi belanja Taobao.

Li Chengdong, pendiri Haitun Shenzhen, menilai langkah ini lebih dari sekadar meluncurkan perangkat.

"Kekuatan Alibaba ada pada belanja, pembayaran digital, dan layanan navigasi. Karena itu, fungsi kacamata AI ini lebih menyerupai asisten hidup sehari-hari, bukan hanya produk hiburan teknologi," ujarnya. 

Komentar Li memperlihatkan karakter kompetisi baru ini: bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki layar paling canggih atau fitur paling futuristik, melainkan siapa yang mampu menempatkan wearable sebagai perangkat yang benar-benar relevan dalam rutinitas pengguna harian.

Sebelumnya pada September, Meta Platforms memperkenalkan kacamata pintar Ray-Ban Meta Smart Glasses, yang menekankan kontrol lewat sensor gestur tangan. Meskipun demikian, dengan harga awal hampir Rp 13 juta, Meta memosisikan produknya di segmen premium. Sebaliknya, kacamata Alibaba dirilis dengan spektrum harga yang lebih ramah bagi adopsi massal di pasar domestik sebelum ekspansi global lebih luas.

CNBC menyoroti bahwa langkah Alibaba dilandasi keyakinan bahwa kacamata pintar akan menjadi perangkat berikutnya yang mampu menyamai efek adopsi smartphone.

"Perangkat paling strategis setelah era ponsel pintar mungkin bukan ponsel generasi baru, melainkan perangkat yang langsung melekat pada aktivitas sehari-hari pengguna, dan kacamata pintar menjadi kandidat terdekatnya."

Omdia, lembaga riset pasar teknologi, memproyeksikan pasar kacamata AI akan tumbuh cepat sekalipun volumenya masih kecil saat ini. Hingga 2026, pengiriman kacamata AI global diperkirakan menembus lebih dari 10 juta unit, dua kali lipat dari 2025.

Pertaruhan wearable AI ini sekaligus mencerminkan strategi nasional Tiongkok memperkuat posisinya di rantai teknologi konsumen, di mana Baidu, Tencent, dan Xiaomi juga telah menyiapkan lini perangkat serupa. Posisi Alibaba tidak hanya berkompetisi dengan Meta, tetapi juga memperlihatkan dorongan intensif perusahaan teknologi Tiongkok untuk merebut pangsa perangkat personal generasi baru.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore