Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Desember 2025, 04.27 WIB

Gejolak Oracle Menyeret Turun Kekayaan Larry Ellison dan Memicu Kekhawatiran Baru di Pusat Persaingan AI Global

Larry Ellison, pendiri Oracle Corp (Dok. Bloomberg)

JawaPos.com - Gejolak tajam di saham Oracle kembali mengguncang lanskap kekayaan global, menyeret turun nilai kekayaan Larry Ellison dalam skala historis dan sekaligus memantik kegelisahan baru mengenai keberlanjutan belanja besar di sektor kecerdasan buatan (AI). 

Pada perdagangan Kamis, saham Oracle merosot sekitar 11 persen setelah laporan keuangan terbaru memicu kekhawatiran investor atas lonjakan biaya pembangunan pusat data AI.

Melansir dari Bloomberg, Sabtu (13/12/2025), penurunan saham membuat kekayaan Ellison anjlok 24,9 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp 415 triliun dengan kurs Rp 16.660 per dolar AS dalam satu hari. Kejatuhan ini sekaligus menurunkan posisinya dari peringkat kedua menjadi ketiga dalam daftar orang terkaya dunia versi Bloomberg Billionaires Index.

Penurunan ini mencerminkan kegelisahan pasar atas strategi Oracle dalam memperluas jejaknya di infrastruktur AI. Sejumlah analis menilai laporan keuangan itu memupus optimisme yang sebelumnya mendongkrak saham Oracle pada September lalu. 

Analis Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, mengatakan bahwa laporan "datang untuk mengonfirmasi kekhawatiran tentang belanja AI yang berat yang didanai dengan utang," menegaskan bahwa sentimen pasar kini berbalik lebih berhati-hati.

Di saat negara-negara dan perusahaan teknologi berlomba memperkuat fondasi AI, Oracle meningkatkan belanja modal hingga mencapai sekitar 12 miliar dolar AS pada kuartal terakhir. 

Namun, percepatan ekspansi belum berbanding lurus dengan percepatan pendapatan, membuat pasar mempertanyakan apakah perusahaan mampu menjaga rasio utang dan pengembalian jangka panjangnya. Kekhawatiran ini semakin kuat setelah proyeksi belanja Oracle untuk tahun fiskal mendatang mendekati 50 miliar dolar AS, jauh di atas perkiraan awal.

Tekanan pasar terhadap Oracle juga memicu gejolak lebih luas di saham-saham teknologi yang bergerak di sektor AI. Beberapa analis memperingatkan adanya potensi pembentukan "gelembung AI" akibat agresivitas belanja yang tidak disertai ekspektasi pendapatan yang realistis. Sentimen ini menyeret turun perusahaan lain yang terkait erat dengan infrastruktur komputasi besar.

Ellison sendiri berada dalam situasi kompleks karena penurunan ini terjadi di tengah komitmennya mendukung upaya akuisisi besar yang dipimpin putranya, David Ellison, terhadap Warner Bros. Discovery (WBD) melalui Paramount Skydance. Tawaran bernilai USD 108 miliar itu, yang termasuk USD 41 miliar modal baru, sebagian besar dijamin oleh keluarga Ellison dan mitra mereka, RedBird Capital.

Meski demikian, Ellison masih memiliki ruang finansial besar. Mayoritas kekayaannya tetap bersumber dari kepemilikan saham Oracle yang kini bernilai sekitar 202,8 miliar dolar AS. Namun sebagian asetnya tersimpan pada instrumen kurang likuid seperti properti dan karya seni, sehingga tidak seluruhnya dapat langsung dimobilisasi untuk kebutuhan pendanaan cepat.

Di tengah tekanan, dinamika ini menegaskan rapuhnya peta kekayaan global yang kini sangat dipengaruhi oleh volatilitas sektor AI. Gejolak pasar yang terjadi dalam hitungan jam dapat mengubah valuasi perusahaan teknologi besar dan memengaruhi posisi para pemimpin industrinya secara signifikan, menunjukkan betapa sensitifnya ekosistem AI terhadap pergeseran sentimen investor.

Secara keseluruhan, gejolak Oracle bukan hanya menggambarkan risiko strategis perusahaan, tetapi juga menjadi refleksi dari pertaruhan besar industri AI yang tengah membentuk ulang ekonomi global. Bagi para pemain kunci seperti Ellison, langkah ke depan tidak sekadar soal bertahan, melainkan membuktikan apakah belanja besar untuk AI benar-benar mampu menghasilkan nilai strategis jangka panjang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore