Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Desember 2025, 04.23 WIB

Filantropi Global Jeff Bezos Dorong Perlindungan Laut Pasifik Tropis Timur, Dana Rp407 Miliar Digelontorkan

Seekor iguana laut bertengger di atas batu di hadapan Samudra Pasifik di Pulau Santa Cruz, Kepulauan Galapagos, Ekuador. (Reuters) - Image

Seekor iguana laut bertengger di atas batu di hadapan Samudra Pasifik di Pulau Santa Cruz, Kepulauan Galapagos, Ekuador. (Reuters)

JawaPos.com — Filantropi global kembali memainkan peran penting dalam agenda keberlanjutan lingkungan, seiring meningkatnya keterlibatan pendanaan swasta dalam isu perlindungan alam. Melalui Bezos Earth Fund, pendiri Amazon Jeff Bezos menempatkan konservasi laut sebagai prioritas strategis dengan mendukung upaya perlindungan ekosistem pesisir dan laut di kawasan Pasifik Tropis Timur.

Melansir Reuters, Senin (15/12/2025), langkah terbaru itu diwujudkan lewat komitmen pendanaan sebesar 24,5 juta dolar AS atau sekitar Rp407,4 miliar (dengan kurs Rp16.630 per dolar AS) untuk perlindungan pesisir dan pengelolaan kawasan laut di Pasifik Tropis Timur. Kawasan ini mencakup perairan Kosta Rika, Panama, Kolombia, dan Ekuador—wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut paling penting di dunia.

Berdasarkan pernyataan resmi Bezos Earth Fund, hibah terbaru ini difokuskan untuk memperkuat kapasitas penjaga kawasan konservasi laut, komunitas pesisir, serta organisasi lokal dalam melindungi habitat laut yang krusial. Pendanaan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan keselamatan dan efektivitas patroli di laut, memperluas perlindungan berbasis komunitas di kawasan pesisir, serta memperkuat pengambilan keputusan yang bertumpu pada data dan kajian ilmiah.

Investasi terbaru ini hampir menggandakan total dukungan Bezos Earth Fund di kawasan tersebut menjadi lebih dari 60 juta dolar AS sejak 2021. Dalam periode yang sama, empat negara penerima manfaat telah menetapkan lebih dari 154.000 mil persegi atau sekitar 400.000 kilometer persegi kawasan konservasi laut baru, sehingga cakupan perlindungan laut regional meningkat hampir tiga kali lipat.

Panama, Kosta Rika, dan Kolombia kini masing-masing telah melindungi lebih dari 30 persen perairan nasionalnya, sementara Ekuador memperluas perlindungan di zona pesisir dan lepas pantai yang krusial. Sinergi lintas negara ini bertujuan membangun salah satu jaringan konservasi laut terkoordinasi terbesar di dunia, sekaligus memastikan perlindungan ekosistem penting tetap berkelanjutan di seluruh kawasan Pasifik Tropis Timur.

Presiden dan CEO Bezos Earth Fund, Tom Taylor, menegaskan nilai strategis kawasan tersebut.

“Perairan ini adalah rumah bagi penyu yang terancam punah, gerombolan tuna, serta satu-satunya tempat di Bumi di mana hiu martil masih berkumpul dalam jumlah ribuan,” ujarnya.

“Ketika masyarakat dibekali alat yang tepat, mereka sebenarnya mampu melindungi spesies-spesies ini—dan laut pun kembali hidup," tambahnya.

Tidak hanya itu, pendanaan baru juga difokuskan pada peningkatan perencanaan patroli berbasis data. Banyak kawasan konservasi di Pasifik Tropis Timur berada di lokasi terpencil dan sulit dipantau. Melalui pelatihan dan akses informasi satelit, petugas lapangan diharapkan dapat mengambil keputusan harian yang lebih efektif dan aman.

Menteri Lingkungan Hidup Panama Juan Carlos Navarro menilai kolaborasi ini sebagai model konservasi lintas negara.

“Dengan dukungan mitra seperti Bezos Earth Fund, Panama memperkuat perlindungan Taman Nasional Coiba bersama masyarakat lokal,” katanya.

“Bersama Kosta Rika, Kolombia, dan Ekuador, kami memajukan Koridor Laut Pasifik Tropis Timur sebagai cagar biosfer laut lintas batas pertama di dunia," lanjutnya.

Selain patroli, hibah ini juga menyasar perlindungan “nursery habitat” seperti mangrove dan muara sungai—tempat awal siklus hidup banyak spesies laut. Pendanaan mencakup pemantauan jangka panjang pergerakan hiu, penyu, paus, dan tuna melalui kamera bawah laut serta analisis DNA lingkungan.

Dalam konteks global, inisiatif Bezos menegaskan bagaimana kekuatan modal filantropi para tokoh teknologi kini menjadi instrumen penting diplomasi lingkungan global. Di tengah krisis iklim dan degradasi laut, pendekatan berbasis sains dan komunitas ini dipandang sebagai fondasi keberlanjutan jangka panjang—bukan hanya bagi kawasan Pasifik Tropis Timur, tetapi juga bagi tata kelola laut dunia. ***

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore