
Sergey Brin yang kembali ke Google dan membahas keterlibatannya dalam pengembangan Gemini, model AI unggulan Google. (Business Insider)
JawaPos.com — Di tengah perlombaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global yang kian sengit, Sergey Brin memilih keluar dari masa pensiun singkatnya dan kembali terjun langsung ke jantung inovasi Google. Salah satu pendiri raksasa teknologi itu menilai keputusannya sempat pensiun pada akhir 2019 sebagai langkah yang nyaris menjadi kesalahan besar, terutama ketika dunia teknologi bergerak cepat menuju era AI generatif.
Brin, kini berusia 52 tahun, semula membayangkan masa pensiun yang tenang. Dia berniat menghabiskan waktu dengan duduk di kafe dan mempelajari fisika, jauh dari hiruk-pikuk pengambilan keputusan korporasi. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Ruang-ruang publik tutup, interaksi intelektual menyusut, dan ritme hidup yang selama ini menopang ketajaman berpikirnya mendadak hilang.
Melansir Business Insider, Selasa (16/12/2025), Brin mengakui masa pensiun tersebut justru membuatnya merasa kehilangan arah. “Itu tidak berjalan sesuai rencana karena tidak ada lagi kafe yang buka,” ujarnya berseloroh. Tidak hanya itu, dia mengaku bahwa dirinya merasa “seperti berputar tanpa arah” dan “tidak setajam biasanya” tanpa tantangan intelektual yang selama puluhan tahun menjadi bagian hidupnya.
Seiring Google mulai membuka kembali kantor bagi sebagian kecil karyawan, Brin pun ikut kembali. Dari situlah keterlibatannya dalam pengembangan Gemini, model AI unggulan Google, semakin dalam. “Memiliki ruang kreatif teknis seperti ini sangat memuaskan,” kata Brin. Dia menegaskan, “Jika saya tetap pensiun, saya rasa itu akan menjadi kesalahan besar.”
Selain itu, dalam forum peringatan 100 tahun Stanford University School of Engineering, Brin juga berbicara terbuka mengenai evaluasinya terhadap strategi AI Google. Meski Google menjadi pelopor lewat makalah “Transformer” pada 2017, fondasi hampir semua model AI modern, Brin menilai perusahaannya sempat terlalu berhati-hati. “Kami kurang berinvestasi dan terlalu takut membawa teknologi itu ke publik karena chatbot bisa mengatakan hal-hal bodoh,” tuturnya.
Menurut Brin, sikap hati-hati tersebut memberi ruang bagi pesaing untuk melesat lebih cepat. Dia secara eksplisit menyebut OpenAI sebagai contoh. “Mereka langsung melaju, dan itu bagus bagi mereka,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dominasi awal Google dalam riset tidak otomatis menjamin keunggulan komersial di fase berikutnya.
Meski demikian, Brin menilai Google masih memiliki keunggulan struktural yang sulit disaingi. Investasi jangka panjang pada riset jaringan saraf, pengembangan chip AI khusus, serta infrastruktur pusat data berskala masif menjadi modal strategis. “Sangat sedikit pihak yang memiliki skala seperti itu,” kata Brin, merujuk pada fondasi teknologi Google.
Kepada mahasiswa Stanford University, Brin juga memberi peringatan agar tidak menjauhi bidang teknis hanya karena AI kini mampu menulis kode. “Saya tidak akan beralih ke jurusan sastra hanya karena saya berpikir bahwa AI sangat hebat dalam coding.” Brin bahkan menambahkan bahwa AI saat ini, “mungkin justru lebih baik” dalam analisis sastra, sebuah sarkasme tajam tentang luasnya kemampuan model AI modern.
Brin juga merefleksikan kesalahan terbesarnya sebagai pendiri, terutama saat meluncurkan Google Glass terlalu dini—sebelum produk tersebut matang, terjangkau, dan siap diterima pasar. “Semua orang berpikir dirinya the next Steve Jobs. Saya jelas pernah membuat kesalahan itu,” ucapnya. Kini, dengan keterlibatan penuh di Gemini, Brin mengaku kembali berenergi.
“Laju inovasinya luar biasa. Jika Anda melewatkan berita selama sebulan, Anda sudah tertinggal jauh,” katanya—sebuah penegasan mengapa, bagi Brin, kembali dari pensiun bukan sekadar pilihan personal, melainkan keputusan strategis di era AI global. ***
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
