
Robot penjelajah milik NASA, Perseverance, berhasil menangkap rekaman suara gemericik halus yang diduga kuat sebagai aktivitas listrik atau "petir mini". (NASA)
JawaPos.com - Selama puluhan tahun, para ilmuwan hanya bisa menduga adanya aktivitas listrik di Planet Mars. Kini, misteri itu terjawab bukan lewat jepretan kamera, melainkan melalui suara.
Robot penjelajah milik NASA, Perseverance, berhasil menangkap rekaman suara gemericik halus yang diduga kuat sebagai aktivitas listrik atau "petir mini".
Penemuan ini membuktikan bahwa atmosfer Mars yang dingin dan berdebu menyimpan energi statis yang aktif.
Keberhasilan ini bermula saat tim ilmuwan internasional menganalisis data audio dari mikrofon Perseverance. Di tengah kebisingan angin dan hantaman debu, muncul suara pelepasan listrik yang unik.
Fenomena ini menjadi yang pertama kali didengar langsung, bukan lagi sekadar teori di atas kertas.
Berdasarkan laporan CBS News, temuan ini menjadi kunci penting untuk membedah dinamika atmosfer Mars yang selama ini menyelimuti para peneliti dengan tanda tanya.
Deteksi ini tidak terjadi sekali dua kali. Selama dua tahun waktu Mars, para peneliti mendokumentasikan setidaknya 55 kejadian pelepasan listrik.
Menariknya, suara-suara ini muncul saat badai debu atau puting beliung (dust devils) melintas di dekat robot rover.
Para ilmuwan meyakini bahwa gesekan antar partikel debu di udara Mars yang kering menciptakan muatan listrik statis.
Meski ukurannya kecil, hanya beberapa inci, suaranya terdengar sangat jelas karena jaraknya hanya sekitar enam kaki dari mikrofon robot.
Upaya mencari bukti petir di Mars sudah dilakukan selama lebih dari 50 tahun. Baptiste Chide dari Institut Penelitian Astrofisika dan Planetologi di Toulouse, sekaligus penulis utama studi ini, merasa penemuan ini adalah kepingan puzzle yang hilang.
"Ini membuka bidang investigasi yang sama sekali baru untuk ilmu pengetahuan Mars," kata Chide.
Ia menambahkan bahwa pelepasan listrik ini memiliki potensi besar untuk mengubah reaksi kimia di atmosfer Mars, sebuah hipotesis yang sebelumnya sangat sulit dibuktikan.
Namun, tidak semua pihak langsung setuju sepenuhnya. Daniel Mitchard dari Universitas Cardiff memberikan catatan kritis meski tetap mendukung temuan ini.
"Data tersebut berasal dari satu instrumen yang sejatinya tidak dirancang untuk mendeteksi petir," ujar Mitchard mengingatkan bahwa bukti ini masih perlu diperkuat.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
