Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Desember 2025, 05.49 WIB

30 Tahun Menghilang, Kucing Paling Langka di Dunia Tiba-tiba Muncul di Thailand

Gambar jebakan kamera seekor Flat-headed cats di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand. (DNP/Panthera) - Image

Gambar jebakan kamera seekor Flat-headed cats di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand. (DNP/Panthera)

JawaPos.com - Dunia konservasi internasional baru saja dikejutkan dengan kabar luar biasa dari hutan Thailand. Seekor kucing berkepala pipih (Prionailurus planiceps), salah satu kucing liar paling langka di dunia, kembali menampakkan diri setelah menghilang tanpa jejak selama hampir tiga dekade.

Terakhir kali spesies eksotis ini terlihat di Thailand adalah pada tahun 1995. Penemuan kembali ini menjadi harapan baru di tengah kekhawatiran bahwa predator kecil ini telah punah dari alam liar Negeri Gajah Putih.

Terekam Kamera Jebak di Suaka Margasatwa

Dikutip dari CBS News, titik terang ini bermula saat organisasi konservasi kucing liar Panthera bekerja sama dengan Departemen Taman Nasional Thailand melakukan survei di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn. Menggunakan teknologi kamera jebak, mereka berhasil menangkap momen langka yang belum pernah terjadi selama 30 tahun terakhir.

Tak tanggung-tanggung, kucing berkepala pipih tersebut terdeteksi sebanyak 29 kali. Meski sulit menghitung jumlah individu secara pasti karena mereka tidak memiliki pola bulu yang unik, temuan ini menunjukkan adanya populasi yang sehat di kawasan tersebut.

Kabar yang paling menyentuh adalah terekamnya seekor induk kucing yang sedang membawa anaknya. Momen ini dianggap sangat istimewa karena spesies ini dikenal sulit bereproduksi dan biasanya hanya melahirkan satu anak.

Mengenal Kucing Berkepala Pipih yang Unik

Berbeda dengan kucing rumahan, kucing berkepala pipih memiliki anatomi yang sangat spesifik. Ukuran tubuhnya memang serupa dengan kucing domestik, namun ia memiliki kepala yang cenderung mendatar dengan letak mata bulat yang saling berdekatan.

Habitat aslinya adalah ekosistem lahan basah yang lebat, seperti:

- Rawa gambut

- Hutan bakau air tawar

- Tepian sungai

Makanan utama mereka bukan tikus, melainkan hasil air seperti ikan, katak, dan udang. Sayangnya, habitat spesifik inilah yang membuat mereka sangat rentan terhadap kepunahan.

Ancaman Nyata di Balik Kegembiraan

Meski menjadi kabar gembira, para ahli mengingatkan bahwa kucing ini masih berada dalam ancaman serius. Kerusakan hutan dan konversi lahan menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore