Mobil-mobil terbakar di jalanan selama demonstrasi di Teheran, Iran, pada 8 Januari 2026. (Reuters).
JawaPos.com - Teheran menegaskan masih menjaga jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS), meski negara itu sedang menghadapi gelombang protes nasional yang berujung bentrokan berdarah dan tekanan internasional yang kian meningkat.
Situasi ini disebut sebagai salah satu tantangan terberat bagi pemerintahan ulama Iran sejak Revolusi Islam 1979. Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah Iran pada Senin (12/1) waktu setempat, saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi respons atas tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap demonstran.
Trump sebelumnya menyatakan AS membuka peluang untuk bertemu pejabat Iran, sekaligus mengklaim telah menjalin kontak dengan kelompok oposisi Iran di luar negeri. Di saat bersamaan, Trump juga melontarkan ancaman, termasuk kemungkinan aksi militer, menyusul laporan kekerasan mematikan terhadap massa aksi.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut telah memverifikasi kematian 640 orang sejak protes pecah pada 28 Desember dan meluas ke berbagai kota.
HRANA juga mencatat sedikitnya 10.694 orang ditangkap. Namun, Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi data tersebut secara independen.
Internet Diputus, Informasi Terhambat
Arus informasi dari Iran semakin terbatas sejak pemerintah memberlakukan pemadaman internet pada Kamis lalu. Kebijakan ini menyulitkan verifikasi lapangan dan memperkecil ruang pelaporan independen terkait skala dan dampak unjuk rasa.
Protes yang awalnya dipicu keluhan ekonomi, mulai dari inflasi tinggi hingga kesulitan hidup, berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk seruan agar pemerintahan ulama mundur. Meski demikian, hingga kini belum terlihat perpecahan di lingkaran elite Syiah, militer, maupun aparat keamanan.
Di sisi lain, gerakan protes juga dinilai belum memiliki kepemimpinan pusat yang jelas, dengan oposisi yang masih terfragmentasi.
Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan warga berkumpul di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran, pada Minggu (11/1) lalu. Dalam video tersebut tampak deretan kantong jenazah berwarna gelap, memperkuat kekhawatiran publik terkait jumlah korban jiwa.
Pemerintah Iran sendiri belum merilis angka resmi korban tewas. Otoritas Teheran menuding kekerasan dipicu campur tangan AS serta kelompok yang mereka sebut sebagai 'teroris' yang didukung AS dan Israel.
Media pemerintah lebih banyak menyoroti kematian aparat keamanan dalam pemberitaan mereka. Kementerian Intelijen Iran pada juga mengumumkan telah menangkap tim-tim yang mereka labeli sebagai teroris.
Dalam pernyataan yang dimuat media pemerintah, kelompok tersebut dituding bertanggung jawab atas pembunuhan relawan paramiliter pro-pemerintah, pembakaran masjid, serta serangan terhadap fasilitas militer.
Selain itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui adanya 'pesan-pesan yang saling bertentangan' dari Washington. Meski demikian, ia menegaskan komunikasi tetap berjalan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
