SpaceX berencana meluncurkan jauh lebih banyak satelit ke orbit, memicu perdebatan global tentang dampak lingkungan dan regulasi ruang angkasa.
JawaPos.com — Ambisi Elon Musk untuk menempatkan hingga 1 juta satelit di orbit rendah Bumi membuka babak baru persaingan infrastruktur digital global. Namun, di balik rencana ekspansif SpaceX tersebut, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin proyek sebesar itu berpotensi lolos tanpa kajian dampak lingkungan formal di Amerika Serikat?
Pada 30 Januari lalu, SpaceX mengajukan permohonan kepada Federal Communications Commission (FCC), lembaga regulator telekomunikasi dan spektrum frekuensi Amerika Serikat, untuk meluncurkan mega-konstelasi satelit yang menurut Elon Musk akan berfungsi sebagai pusat data kecerdasan buatan di orbit. Jika disetujui, jumlah tersebut akan melampaui secara drastis sekitar 14.500 satelit aktif yang saat ini mengitari Bumi.
Melansir New Scientist, Jumat (27/2/2026), para astronom kini berpacu dengan waktu menjelang tenggat persetujuan. Mereka berupaya menghitung konsekuensi ilmiah dari proyek yang skalanya belum pernah terjadi sebelumnya. Ironisnya, FCC tidak diwajibkan untuk menilai dampak lingkungan dari peluncuran satelit, termasuk terhadap atmosfer Bumi maupun perubahan pada langit malam.
“Kami sangat khawatir,” ujar Ruskin Hartley, CEO DarkSky International. “Kami tidak menentang satelit, tetapi kami percaya ini harus dilakukan secara bertanggung jawab.” FCC membuka masa komentar publik kurang dari sepekan setelah proposal diajukan—jauh lebih cepat dibandingkan proses permohonan lain yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan—dengan batas akhir 6 Maret.
Hingga kini, lebih dari 350 komentar telah masuk, sebagian besar berasal dari komunitas astronomi. Samantha Lawler dari University of Regina, Kanada, menyatakan, “Rencana satu juta satelit itu sepenuhnya menakutkan.” Dia menambahkan, “Kami sedang berlomba mengumpulkan informasi yang kami butuhkan untuk menulis kepada FCC.”
Masalah utama terletak pada minimnya rincian teknis. SpaceX belum mengungkap ukuran maupun ketinggian orbit satelit yang direncanakan. Tanpa data itu, komunitas ilmiah kesulitan memproyeksikan dampak presisi terhadap pengamatan astronomi. Dalam skenario terburuk, kata Lawler, puluhan ribu satelit dapat terlihat dengan mata telanjang sepanjang malam, sementara jumlah yang jauh lebih besar akan mengganggu teleskop di Bumi maupun di luar atmosfer.
Konstelasi tersebut juga harus diperbarui secara berkala, kemungkinan setiap lima tahun seperti jaringan Starlink. Artinya, rata-rata satu satelit akan diluncurkan dan satu lainnya memasuki atmosfer setiap tiga menit. Saat ini, hanya beberapa satelit yang kembali ke atmosfer setiap hari.
Dampak atmosfer menjadi perhatian serius. Ketika satelit dan roket terbakar saat memasuki atmosfer, keduanya menghasilkan aluminium oksida atau alumina yang dapat merusak lapisan ozon. “Kita berbicara tentang teragram [1 triliun gram] alumina,” ujar Lawler. “Ini akan menyebabkan penipisan ozon besar-besaran dan mungkin mengubah suhu stratosfer.”
Namun di sisi lain, kewenangan perizinan satelit yang dijalankan FCC dikecualikan dari ketentuan National Environmental Policy Act (NEPA), yang umumnya mewajibkan kajian dampak lingkungan untuk proyek federal di Amerika Serikat. Artinya, FCC tidak secara otomatis wajib menyusun analisis dampak lingkungan untuk proyek satelit komersial. Kevin Bell dari Free Information Group mengatakan, “Dalam dunia yang ideal, FCC akan mempelajarinya,” namun mengakui regulator tersebut “tidak selalu memiliki kapasitas ilmiah internal untuk menilai dampak atmosfer.”
Hingga laporan ini diturunkan, FCC dan SpaceX belum memberikan tanggapan resmi. Dengan demikian, perdebatan mengenai mega-konstelasi ini tidak hanya menyangkut inovasi dan dominasi teknologi global, tetapi juga menguji batas regulasi Amerika Serikat dalam mengimbangi percepatan ambisi industri antariksa swasta.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
