
Ilustrasi DBD. Dok. JawaPos
JawaPos.com - Jakarta mencatat lonjakan signifikan kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang tahun 2025. Hingga 22 September, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan sebanyak 7.274 kasus DBD dengan 12 kematian.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah, mitra swasta bersama Kementerian Kesehatan RI memperkuat langkah pengendalian dan mengimbau seluruh pihak baik masyarakat, akademisi, maupun sektor swasta untuk berkolaborasi menekan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, M.M., melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Ovi Norfiana, M.K.M., menegaskan bahwa DBD masih menjadi tantangan kesehatan utama di ibu kota.
Berbagai strategi telah dijalankan mulai dari program 3M Plus, Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J), edukasi masyarakat, hingga penggunaan inovasi berbasis sains seperti teknologi Wolbachia di wilayah Jakarta Barat untuk memutus rantai penularan virus dengue.
“Dengue adalah tantangan kesehatan yang terus kita hadapi setiap tahun dengan dampak signifikan bagi masyarakat Jakarta. Karena itu, kami juga melaksanakan vaksinasi dengue di Jakarta Selatan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai langkah pelengkap dalam melindungi masyarakat,” ujar Ovi dalam acara Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
Ia menambahkan, pendekatan terintegrasi berbasis kolaborasi lintas sektor sangat penting agar pencegahan dan pengendalian DBD bisa berjalan lebih optimal.
Dari sisi akademisi, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa dengue dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau tempat tinggal, bahkan tidak hanya pada musim hujan.
“Setiap keluarga berisiko terpapar, sehingga pencegahan harus menjadi prioritas utama. Melalui pemantauan aktif vaksinasi dengue di sekolah dasar di Jakarta Selatan, FKUI dan Dinkes DKI Jakarta dengan dukungan Takeda berupaya memastikan efektivitas vaksin secara sistematis,” jelasnya.
Program serupa juga akan dilaksanakan di Palembang dan Banjarmasin.
Senada, Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, menegaskan komitmen institusinya dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
“Kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Sriwijaya, Fakultas Lambung Mangkurat, serta Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Takeda ini menjadi wujud nyata peran akademisi dalam menghadirkan solusi kesehatan yang berkelanjutan di tengah tantangan penyakit menular seperti dengue,” ucapnya.
Sementara itu, Plh. Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Fadjar Surya Mensing Silalahi, menyatakan bahwa Kemenkes terus memperkuat penanggulangan dengue sesuai dengan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) 2021–2025.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antarinstansi agar target “Zero dengue death in 2030” yang sejalan dengan strategi global WHO dapat tercapai.
“Keberhasilan pengendalian dengue tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif akademisi, swasta, dan masyarakat. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh nyata kerja bersama menuju Indonesia bebas kematian akibat dengue,” kata Fadjar.
Sebagai mitra swasta yang turut berperan, PT Takeda Innovative Medicines melalui dr. Arif Abdillah, Head of Medical Affairs, menyampaikan dukungannya terhadap upaya pengendalian DBD di Indonesia.
