Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Oktober 2025, 18.31 WIB

Penting untuk Kehidupan Manusia, MUI Dorong PAM Jaya Kelola Air Secara Berkeadilan Lewat Nilai Agama dan Budaya

Ketua Panitia Lokakarya yang juga Ketua Bidang Seni Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jakarta, Lutfi Hakim. (Istimewa) - Image

Ketua Panitia Lokakarya yang juga Ketua Bidang Seni Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jakarta, Lutfi Hakim. (Istimewa)

JawaPos.com - Ketua Bidang Seni Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jakarta, Lutfi Hakim mengungkap pentingnya air dalam kehidupan manusia. Air berfungsi untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari minum, memasak, menjaga kebersihan, hingga makna simbolis dalam tradisi agama dan budaya. 
 
“Pemahaman tentang air melampaui dimensi materialnya sebagai substansi fisik. Ia juga mencakup aspek keagamaan, filosofi, dan adat istiadat yang hidup di masyarakat,” kata Lutfi, dalam Lokakarya bertajuk Menakar Masa Depan Air di Jakarta, Akankah Menjadi Air Mata? di Jakarta, Selasa (7/10).
 
Lutfi mengatakan, islam menempatkan air sebagai aspek penting kehidupan. Air tidak hanya dipakai untuk konsumsi, melainkan sebagai sarana penyucian, bahkan kitab fiqih membahas bab pertama tentang air. 
 
Dari aspek budaya, air bisa melambangkan kehidupan. Seperti tradisi siraman di Jawa, melukat di Bali, hingga makna air dalam budaya Betawi melalui kendi, kentong, dan roti buaya. 
 
Ia menekankan bahwa transformasi PAM JAYA menjadi perseroda harus sejalan dengan prinsip tata kelola yang baik, yakni transparansi, akuntabilitas, dan orientasi pada pelayanan publik. 
 
“Transformasi PAM Jaya menjadi perseroda harus dibaca sebagai momentum untuk memperkuat dua hal sekaligus: profesionalitas bisnis dan tanggung jawab sosial,” ujar Lutfi. 
 
 
Sementara, Sekretaris Umum MUI Provinsi Jakarta, Auzai Mahfuz menekankan bahwa persoalan air tak hanya teknis, tetapi juga simbol peradaban dan kemanusiaan. 
 
“Air ini tidak mengenal agama. Nabi kita bersabda bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan yang harus dipenuhi bersama. Yang pertama adalah air, yang kedua udara, dan yang ketiga adalah api,” jelasnya. 
 
Auzai menyoroti Perang Badar sebagai contoh sejarah di mana perebutan sumber air menjadi strategi penting. Dari perspektif ini, air bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga kekuatan, kebijaksanaan, dan simbol keadilan. 
 
“Semoga air yang mengalir di kota ini tidak hanya menghidupi, tapi juga mempersatukan. Karena sejatinya, di setiap tetes air ada pesan ilahi, kehidupan harus dijaga bersama,” tambahnya.
 
Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama PAM JAYA, Prasetyo Edi Marsudi menceritakan perjalanan pengelolaan PAM JAYA yang sebelumnya dikuasai swasta. proses akuisisi Palyja dan Aetra, yang awalnya membutuhkan dana Rp 650 miliar melalui arbitrase. Dana tersebut sempat berpindah bank dan baru dikembalikan saat masa kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, kemudian digunakan sebagai penyertaan modal pembangunan JIS. 
 
Menurutnya, selama dikuasai swasta, warga menengah ke bawah kurang mendapatkan akses air bersih. “Visinya adalah, ke depan sambungkan semua. Menengah ke bawah harus semua terinstalasi,” tegas Prasetyo. 
 
“Sekarang PAM setelah lepas dari swasta, dan alhamdulillah kita surplus,” tuturnya.
 
Dengan perspektif spiritual, budaya, dan praktik pengelolaan yang lebih profesional, lokakarya ini diharapkan menghasilkan ide dan rekomendasi konkret bagi tata kelola air Jakarta, sehingga air tetap menjadi sumber kehidupan, bukan air mata.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore