Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Oktober 2025, 00.27 WIB

Penjelasan BRIN soal Bahaya Kandungan Mikroplastik di Hujan Jakarta: Bisa Terhirup Tanpa Disadari

Pengendara sepeda motor melintas saat hujan deras mengguyur kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Pengendara sepeda motor melintas saat hujan deras mengguyur kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Air hujan di Jakarta diklaim mengandung mikroplastik, partikel plastik superhalus yang bisa masuk ke tubuh manusia tanpa disadari.

Peneliti Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengungkapkan bahaya hujan kandungan mikro plastik ini. Sebab, mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu.

"Mikroplastik ini berukuran sangat kecil (kurang dari 5 mm atau 0,5 cm) bahkan ada yang lebih kecil dari debu (batas mikroplastik sampai 1 mikron). Jadi mikroplastik ini bisa terhirup atau tertelan tanpa disadari," ujar Reza kepada JawaPos.com, dikutip Kamis (16/10).

Menurut dia, paparan jangka panjang mikroplastik dalam tubuh manusia dan hewan bisa memicu stres oksidatif, peradangan jaringan, hingga gangguan metabolik. Hal ini sangat mengganggu kesehatan tubuh.

"Dalam tubuh manusia dan hewan, partikel ini dapat memicu stres oksidatif, peradangan jaringan, dan gangguan metabolik bila paparannya berulang dalam jangka panjang," tuturnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, mikroplastik juga bisa membawa bahan kimia berbahaya dari pabrik. Seperti ftalat dan BPA, serta pencemar logam berat yang menempel di permukaannya.

"Mikroplastik juga bisa membawa bahan kimia berbahaya baik dari pabrik saat dibuat atau pencemar yang menempel di permukaannya," lanjutnya.

Tak hanya tubuh manusia, mikroplastik yang turun bersama hujan juga memperburuk kondisi lingkungan. Sebab, akan mempengaruhi kesuburan tanah hingga kualitas air minum masyarakat.

Ia menegaskan, bukti global sudah cukup kuat bahwa mikroplastik tidak bisa dianggap aman bagi lingkungan.

"Partikel yang jatuh bersama hujan bisa masuk ke tanah, air permukaan, sungai, dan akhirnya laut, menambah beban pencemaran dan berpotensi memengaruhi kesuburan tanah serta kualitas air minum masyarakat," papar Reza.

Awal Mula Mikroplastik Ditemukan di Hujan di Pesisir Jakarta

Fakta mengejutkan ini terungkap dalam riset berjudul “The deposition of atmospheric microplastics in Jakarta-Indonesia: The coastal urban area” yang dipimpin oleh Reza.

"Ya, benar. Beberapa penelitian, termasuk yang dilakukan oleh kami di area pesisir Jakarta, telah menemukan adanya mikroplastik dalam air hujan dan deposisi atmosfer," jelasnya.

Reza menjelaskan, sampel dikumpulkan dengan penangkap hujan selama beberapa bulan, lalu disaring dan diperiksa menggunakan mikroskop dan spektroskopi FTIR. Jenis mikroplastik yang ditemukan pun bervariasi.

"Jenis mikroplastik yang ditemukan umumnya berupa serat sintetis seperti poliester dan nilon, serta fragmen kecil dari plastik kemasan," ungkapnya. Bahkan, tim BRIN menemukan serat sintetis yang biasa terdapat pada ban kendaraan.

"Sumber utamanya berasal dari aktivitas manusia di kota. Misalnya abrasi pakaian saat mencuci, gesekan dari ban kendaraan, pembakaran terbuka sampah plastik, dan degradasi plastik di lingkungan," jelas Reza.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore