
Sejumlah siswa SMA 72 yang terluka dirawat di IGD Rumah Sakit Islam Jakarta, Jumat (07/11/2025). Dikabarkan sebelumnya terjadi sebuah ledakan d SMAN 72 Kelapa Gading. Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengatakan ada 54 korban luka akibat peristiwa
JawaPos.com-Asap akibat ledakan bom rakitan di sekolah belum sepenuhnya hilang dari benak para siswa SMAN 72 Jakarta. Ledakan yang terjadi pada Jumat (7/11) itu tak hanya merusak bagian sekolah, tetapi juga menyisakan ketakutan dan trauma mendalam bagi para murid sekolah yang belokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara itu
Hingga kini, sekolah masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menyampaikan bahwa sistem tersebut akan berlangsung setidaknya sampai Senin (17/11), sambil menunggu keputusan bersama pihak sekolah dan orang tua.
“Hari Senin besok, para guru dan siswa akan diberi pilihan, apakah mereka akan sekolah langsung atau daring,” ujar Pramono, Minggu (16/11).
Dalam peristiwa mengerikan itu, bukan hanya bangunan yang terguncang, tetapi perasaan para siswa juga ikut retak. Beberapa dari mereka bahkan meminta pindah sekolah tanpa menunggu waktu lama.
“Ternyata dampaknya di luar dugaan saya. Banyak siswa yang kemudian minta pindah sekolah,” kata Pramono.
Bagi sebagian orang, sekolah bukan sekadar bangunan tempat belajar. Di sana ada banyak cerita, ada persahabatan, dan mimpi kesuksesan di masa depan yang dipupuk bersama. Namun, ledakan itu mengubah semuanya menjadi ketakutan yang sulit dijelaskan. Tak hanya para siswa, orang tua pun memendam ketakutan. Menyeruak kekhawatiran keselamatan buah hati mereka akan kambali terancam.
Salah satu orang tua siswa, yang dihubungi mengaku masih ragu melepas anaknya kembali belajar secara tatap muka. “Anak saya masih kaget. Dia tidak mau lewat depan sekolah. Katanya masih dengar suara ledakan di kepalanya,” ucapnya lirih.
Karena itu, Pramono meminta pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia berharap langkah yang dipilih mampu menghindarkan dampak psikologis berkepanjangan.
“Saya sudah minta dirumuskan secara baik. Karena saya tidak mau dampaknya sampai panjang,” tegasnya.
Di grup-grup orang tua murid, percakapan tak pernah benar-benar berhenti. Ada yang setuju agar sekolah dibuka kembali, ada pula yang khawatir trauma putra-putrinya belum sepenuhnya pulih.
Ada yang bilang, time will heal. Tapi, apakah trauma itu akan benar-benar sirna? Sementara itu, saat ini, keberanian untuk kembali ke kelas adalah perjalanan yang tidak mudah. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
