Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Desember 2025, 14.53 WIB

Sempat Disebut Dilarang, Misa di Wisma Sahabat Yesus Depok Digelar

Ilustrasi: Pelaksanaan misa Natal. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com — Isu dugaan intoleransi dan pelarangan misa Natal di Wisma Sahabat Yesus, kawasan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, ditepis oleh pengelola wisma, tokoh lintas agama, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Mereka menegaskan tidak jadinya misa beberapa waktu lalu merupakan hasil proses dialog yang berjalan antara warga, aparat, dan pengelola wisma.

Pimpinan Wisma Sahabat Yesus, Romo Robertus Bambang Rudianto atau Romo Rudi, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang hadir dan terlibat dalam dialog. Dukungan itu datang dari pemerintah kelurahan, kepolisian, hingga tokoh lintas agama.

“Terima kasih atas dukungan semua pihak, khususnya di sebelah saya ada Pak Lurah dari Pondok Cina, Pak Nurman. Di sebelah saya ada Pak KH Kholadi dari FKUB, dan sampingnya ada Pak Josman Kapolsek, dan ada Romo Dion juga dari Gereja Katolik yang ada di FKUB,” ujar Romo Rudi.

Dia menegaskan, perayaan Natal yang berlangsung di wisma tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dan proses saling mengenal antar warga.

“Intinya saya mengatakan ini semua adalah bagian dari silaturahmi. Jadi semua sungguh ketika bertemu, dan ketika saling menyapa dari hati, ya inilah kita dapat bersama-sama merayakan,” katanya.

Romo Rudi menekankan, iman dan moral tidak dapat dipisahkan dari sikap saling menghormati antar manusia.

“Maka bagi saya sangat jelas ya, kita semua orang beriman itu pasti bermoral dan kita bermoral pasti menghormati dan inilah cara kita bersilaturahmi melalui menghormati manusia satu sama lain,” ujarnya.

“Dan iman itu tidak terbatas pada agama Katolik. Semua, anda semua juga yang dari Muslim, dari Buddha, dari Hindu, semua merayakan iman itu dengan bagaimana cara kita saling menghormati manusia,” ucapnya.

Menanggapi rumor dan tudingan yang menyebut Depok sebagai kota intoleran, Romo Rudi meminta publik melihat persoalan secara lebih positif.

“Tapi kan tidak semua suara itu harus ditanggapi, karena ada juga suara yang tidak mewakili, menghormati manusia juga. Nah makanya di sini saya hanya mengatakan satu hal, mari kita melihat dengan cara positif,” katanya.

Dia menegaskan tidak ada larangan maupun pembatalan misa, melainkan proses yang membutuhkan waktu dan komunikasi.

“Dan saya di Depok ini dan di tengah-tengah warga semua dan saya mengatakan juga setiap kali ada pertanyaan apakah dilarang? Tidak ada larangan, tidak ada pembatalan. Kita butuh waktu ya, butuh waktu untuk saling mengenal,” ujarnya.

Menurut Romo Rudi, dinamika yang terjadi merupakan hal wajar dalam kehidupan bertetangga.

“Maka sebenarnya ini proses saling mengenal dan saya menganggapnya itu sangat wajar,” tuturnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore