
Kendaraan melintasi di bawah kamera tilang elektronik (ETLE) di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Selasa (21/01/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Implementasi Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) dan Traffic Management Center (TMC) di wilayah hukum Polda Metro Jaya semakin baik. Bukan hanya penindakan, teknologi tersebut efektif dalam urusan pengaturan arus lalu lintas, serta upaya pencegahan terjadinya kecelakaan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyampaikan bahwa sepanjang 2025, terjadi 13.184 kecelakaan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya. Dari angka tersebut, 740 korban meninggal dunia dan 16.380 korban mengalami luka-luka. Demi menekan risiko, pihaknya menerapkan kedua teknologi tersebut.
”Untuk menekan resiko, kami melaksanakan rekayasa lalu lintas, penegakan hukum, serta pengawasan berbasis teknologi, termasuk melalui sistem elektronik dengan jumlah tilang dan teguran sebanyak 893.023 kali,” kata dia dalam Rilis Akhir Tahun yang disampaikan kepada awak media di Jakarta pada Rabu (31/12).
Sejalan dengan itu, Irjen Asep menyampaikan bahwa pihaknya juga terus memperkuat pelayanan pada titik-titik rawan kepadatan arus lalu lintas. Hal senada disampaikan oleh Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya Kombes Komarudin.
”Siapapun pengguna jalan, tidak memandang dari instansi mana, jabatan apa. Karena yang disasar adalah perilaku dari para pengguna. Kendaraan dinas TNI, kendaraan dinas Polri, kendaraan dinas pemerintah daerah, siapapun yang melakukan pelanggaran, otomatis akan ter-capture oleh kamera ETLE,” tegasnya.
Dengan ETLE, tidak ada tawar-menawar atau negosiasi. Penegakan hukum dilakukan sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Pelanggar aturan lalu lintas akan berurusan dengan sistem. Meski ada ruang untuk mengajukan menyampaikan argumentasi, namun dengan bukti dari kamera ETLE, pelanggaran aturan lalu lintas tidak bisa mengelak.
”Inilah konsep penegakan hukum yang saat ini menjadi andalan untuk bisa berupaya melakukan perubahan-perubahan perilaku para pengendara. Dengan konsep budaya berlalu lintas yang kita coba balik menjadi lalu lintas yang berbudaya,” kata dia.
Lebih lanjut, Komarudin menyampaikan bahwa kenaikan angka dan fatalitas kecelakaan lalu lintas bersinggungan dengan masalah rendahnya kesadaran dan kepatuhan pengguna jalan. Untuk itu, perlu terus dilakukan edukasi agar angka dan korban kecelakaan lalu lintas berkurang.
”Ini tentu menjadi PR kita bersama. Harapan tentunya di tahun baru. Upaya besar akan dilakukan dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat, menjadikan lalu lintas yang berbudaya di Jakarta,” jelasnya.
Salah satu teknologi andalan Polda Metro Jaya untuk mengatur arus lalu lintas adalah Traffic Management Center yang sudah diperkuat 4.437 kamera. Ribuan kamera tersebut bisa memantau hampir seluruh ruas-ruas jalan di Jakarta. Sehingga dapat diandalkan untuk membantu pengerahan personel dan penerapan rekayasa lalu lintas.
”Kami bisa dengan cepat menggeser personel ke titik-titik yang memang membutuhkan penanganan segera. Termasuk juga di dalamnya kecepatan dalam penanganan titik-titik ataupun ruas-ruas jalan yang terhambat karena faktor alam seperti banjir dan lain sebagainya,” terang Komarudin.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
