Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Januari 2026, 03.10 WIB

Banjir Surabaya Belum Tuntas, Masih Tersisa 250 Titik Rawan

Ilustrasi banjir di Jalan Mayjen Sungkono. Ketinggian air mencapai 80 cm. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi banjir di Jalan Mayjen Sungkono. Ketinggian air mencapai 80 cm. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com - Banjir masih menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh Pemkot Surabaya, terlebih saat musim hujan tiba. Terbaru, banjir merendam sejumlah titik setelah diguyur hujan deras selama tiga jam pada Minggu sore (4/1).

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan sejak 2021, ada sekitar 350 titik rawan banjir di Kota Pahlawan. Ia mengklaim tidak ada titik banjir baru karena pemerintah menyelesaikan permasalahan banjir secara bertahap.

"Nggak ada titik banjir baru. Kita kan punya 350 titik banjir, itu (data) 2021), yang sudah bisa kita selesaikan 100 titik banjir, artinya masih ada 250 titik banjir, maka akan kita selesaikan (bertahap)," tutur Eri, Rabu (7/1).

Penanganan banjir di Surabaya dilakukan secara bertahap dan berbasis kawasan, seperti di Jalan Jemursari yang melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena salurannya merupakan saluran alam dengan bentang cukup panjang.

“Pemkot menggandeng Pemprov Jatim dan PUPR, khususnya untuk pembangunan dan perbaikan saluran di Jalan Jemursari, dan jalur menuju Gresik yang hingga kini belum memiliki saluran di sisi kanan dan kiri jalan,” imbuhnya.

Eri juga mencontohkan wilayah Dukuh Kupang, yang dulunya menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba. Setelah dilakukan perbaikan saluran hingga pemasangan box culvert, wilayah tersebut tak lagi banjir.

“Petemon (juga) sudah diselesaikan lebih dulu dengan pembangunan pintu air. Beberapa wilayah, seperti Pacuan Kuda kini sudah tidak lagi banjir karena telah tertangani,” beber orang nomor satu di Surabaya itu.

Menurut Wali Kota Eri, permasalahan banjir di Surabaya bukan semata soal anggaran, tetapi juga disebabkan saluran yang tertutup dan ketidaktertiban pembangunan drainase selama puluhan tahun.

“Ke depan, setiap bangunan, terutama yang berada di tepi jalan raya, harus memiliki saluran dengan ukuran yang disesuaikan fungsinya, baik untuk rumah tinggal maupun usaha (sehingga bisa meminimalisir banjir)," tegas Eri.

Untuk tahun 2026, Wali Kota Surabaya menyebut proyek penanganan banjir akan difokuskan di Kelurahan Simo dan Tanjungsari. Terlebih banjir di wilayah Simo Kalangan dan Simo Hilir sudah terjadi selama bertahun-tahun.

“Banjir di kawasan Simo ini memang sudah lama terjadi. Karena itu di 2026 ini, Pemkot Surabaya memfokuskan penanganan banjir di Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari,” tukas Eri.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore