
Mantan Kepala BIN Sutiyoso
JawaPos.com - Setelah hampir 22 tahun mangkrak, tiang proyek monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said akhirnya mulai dibongkar. Langkah ini diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai solusi final atas polemik keberadaan tiang monorel.
Pembongkaran perdana ini dilakukan pada Rabu (14/1) dan dihadiri langsung oleh sang penggagas awal proyek tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (Bang Yos). Gubernur Pramono pun turut menghadirkan Bang Yos dalam pembongkaran di depan stasiun LRT Setiabudi ini.
Dalam momen itu Sutiyoso mengaku lega melihat tiang-tiang tersebut dibongkar. Ia mengaku selama bertahun-tahun merasa sedih setiap kali melintasi kawasan Kuningan karena proyek yang ia rintis pada 2003 itu tidak berlanjut dan justru menjadi beban estetika kota.
"Jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan ya oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini," ujar Bang Yos di lokasi, Rabu (14/1).
Ia mengakui bahwa pilihan yang ada saat ini hanya dua, yakni melanjutkan atau membongkar. Mengingat kondisi struktur yang sudah tidak memungkinkan, pembongkaran menjadi pilihan rasional.
"Mudah-mudahan kalau saya lewat ini enggak sakit mata lagi saya suatu saat, yang selama ini terus terpikir gini aduh. Ya sedih aja ya gitu kan, aku mulai itu jadinya kayak begini. Ya kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat," tambahnya.
Sutiyoso juga buka mengenai sejarah panjang dan akhir pahit proyek monorel Jakarta. Pria yang akrab disapa Bang Yos ini mengaku lega setelah puluhan tahun melihat proyek ambisiusnya hanya menjadi "besi tua" yang terbengkalai.
Kisah ini bermula pada 2003, saat Bang Yos memutar otak mencari solusi macet Jakarta. Tak main-main, ia memboyong pakar dari berbagai universitas untuk merancang Jaringan Transportasi Makro di Jakarta.
Dalam proses perancangannya, Bang Yos melakukan studi banding ke berbagai negara. Namun, pilihannya jatuh pada satu kota yang dianggap memiliki kemiripan dengan Jakarta.
"Saya berhenti lama di Bogota, ibu kota Kolombia. Karena situasinya sama dengan di Jakarta," kenang Bang Yos.
Dari sana, lahir rencana besar empat moda transportasi terintegrasi: MRT di bawah tanah, monorel di jalur layang, 15 koridor Busway di jalan raya, dan waterway sebagai alternatif.
Bang Yos mengakui bahwa membangun transportasi modern saat itu tidak mudah. Dampak kerusuhan Mei 1998 masih terasa, membuat investor enggan melirik Indonesia.
"Saya mulai yang tidak perlu investor, karena saat itu kondisi sosial ekonomi kita belum mapan akibat kerusuhan Mei tahun 98. Itu akibatnya amat panjang, terutama kepercayaan investor terhadap Indonesia lebih khusus lagi Jakarta," ungkapnya.
Karena butuh langkah nyata, ia memutuskan memulai dengan Busway yang tidak memerlukan dana investor besar. Namun, demi kecepatan, monorel tetap dijalankan secara paralel.
"Tetapi rencana yang dibuat oleh pakar transportasi tadi yang saya yakini menyelesaikan masalah untuk jangka panjang, kalau tidak pernah saya mulai, sampai hari raya kuda juga enggak jadi-jadi gitu," tegasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
