
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan pengerukan sekitar 250 saluran penghubung (PHB). (Istimewa)
JawaPos.com - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan pengerukan sekitar 250 saluran penghubung (PHB) dan sejumlah sungai di wilayahnya. Hal ini sebagai upaya mencegah genangan dan banjir, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Wali Kota Jakarta Selatan M Anwar mengatakan, saluran PHB memiliki peran vital dalam sistem drainase perkotaan. Akan tetapi, kondisi di lapangan kerap menghadapi berbagai kendala, salah satunya keberadaan utilitas di bawah saluran air.
“Saluran PHB ini memegang peranan yang sangat penting dalam sistem drainase kita. Namun, tantangan utama di lapangan adalah banyaknya utilitas di bawah saluran tersebut, seperti kabel serat optik, pipa, dan infrastruktur lainnya yang sering kali menghambat aliran air,” ujar Anwar saat ditemui di Rawajati, Jakarta Selatan, Minggu (8/2).
Menurut Anwar, upaya pencegahan banjir tidak bisa dilakukan secara insidental, melainkan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kegiatan pembersihan lingkungan dan saluran air secara rutin.
“Salah satu langkah paling krusial adalah konsistensi. Saya telah menginstruksikan jajaran untuk melaksanakan kerja bakti massal secara rutin setiap Selasa, Jumat, dan Minggu, serta kerja bakti skala besar satu bulan sekali,” kata Anwar.
Ia menambahkan, upaya mitigasi banjir tersebut telah dilakukan secara intensif sejak enam bulan terakhir. Selain kerja bakti, Pemkot Jakarta Selatan juga melakukan berbagai langkah teknis lainnya.
“Langkah-langkah tersebut meliputi normalisasi sungai, pengerukan sedimen di Kali Krukut dan Kali Ciliwung, serta pembangunan dan normalisasi embung agar fungsinya lebih maksimal,” ujarnya.
Tak hanya itu, Pemkot Jakarta Selatan juga membangun sumur resapan dalam dengan kedalaman mencapai 30 meter.
Menurut Anwar, sumur resapan tersebut memiliki kapasitas serapan yang cukup besar. “Sumur resapan ini mampu menyerap hingga 10.000 liter air dalam waktu sekitar 20 menit,” kata dia.
Anwar menyebutkan, pengadaan alat dan pendukung kegiatan mitigasi banjir tersebut turut dibantu melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan Santo mengatakan, pengerukan difokuskan pada sungai-sungai yang berada di wilayah Jakarta Selatan.
“Target utama kami adalah sungai-sungai yang berada di Jakarta Selatan. Pengerukan kali, sungai, maupun saluran PHB sangat signifikan dalam mengurangi genangan maupun banjir,” ujar Santo.
Terkait pengoperasian mesin pompa air, Santo mengungkapkan bahwa kendala utama yang sering dihadapi adalah sampah.
Oleh karena itu, pompa harus dilengkapi dengan saringan sampah agar dapat beroperasi sesuai standar.
