Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Oktober 2025, 20.13 WIB

Kenali 8 Hal yang Tanpa Disadari Masih Dilakukan Anak Korban Gaslighting Orang Tua

Ilustrasi seseorang sedang merenung, menunjukkan kelelahan mental akibat kebutuhan berlebihan untuk memvalidasi realitas./Freepik

JawaPos.com - Perlakuan gaslighting dari orang tua saat masa kecil mungkin terdengar dramatis, seolah hanya ada di film thriller psikologis. Kenyataannya, banyak anak tumbuh dalam lingkungan di mana kenyataan itu dapat dinegosiasikan. Mereka merasa seperti narator yang tidak dapat dipercaya.

Anak-anak ini akhirnya tumbuh menjadi orang dewasa yang tampak normal, memiliki pekerjaan, hubungan, dan prestasi. Melansir dari Geediting.com Selasa (7/10), di balik itu, mereka membawa kebiasaan aneh. Kebiasaan ini adalah bentuk adaptasi untuk bertahan hidup, muncul karena mempercayai persepsi diri dianggap berbahaya.

Berikut adalah delapan hal yang masih dilakukan oleh orang yang tumbuh menjadi korban gaslighting dari orang tua:

  1. Mendokumentasikan Segala Hal

Mereka secara instan mengambil screenshot dari teks atau mengarsipkan email berdasarkan tanggal secara lengkap. Ini bukan sekadar keterampilan berorganisasi, tetapi upaya mengumpulkan bukti. Bukti eksternal menjadi jangkar realitas untuk melindungi diri dari perasaan ingatan mereka dianggap fiksi.

  • Meminta Maaf Atas Perasaan yang Dimiliki

  • Setiap perasaan selalu didahului dengan permintaan maaf, seperti "maaf saya terlalu emosional" atau "saya tahu saya bereaksi berlebihan". Perasaan mereka selalu dianggap salah, terlalu dramatis, atau hanya imajiner saat masa tumbuh kembang. Mereka belajar meragukan respons emosional diri sendiri sebelum orang lain melakukannya.

  • Membutuhkan Validasi Secara Berlebihan

  • Mereka sering meminta teman-teman untuk memastikan apakah reaksi dan realitas mereka normal. Ketika persepsi pribadi terus-menerus dibatalkan, seseorang belajar untuk mengumpulkan persetujuan kolektif. Kompas internal mereka telah diacak, sehingga mereka menavigasi hidup berdasarkan komite.

  • Menjelaskan Segala Sesuatu Terlalu Mendetail

  • Saat diminta alasan keterlambatan, mereka akan memberikan penjelasan yang sangat panjang dan lengkap. Setiap keputusan membutuhkan bukti pendukung, saksi, dan dokumentasi yang jelas. Hal ini menjadi benteng logika untuk membela diri dari orang tua di kepala mereka yang tidak pernah percaya.

  • Sangat Pandai Membaca Perasaan Orang Lain

  • Mereka memiliki kepekaan tinggi terhadap ekspresi mikro, pergeseran suara, dan perubahan suasana hati seseorang secara cepat. Hiper-kewaspadaan ini bukanlah pilihan, melainkan adaptasi yang diperlukan untuk bertahan hidup. Mereka membaca suasana ruangan karena keselamatan emosional mereka pernah bergantung pada sinyal ini.

  • Meragukan Ingatan Mereka Sendiri

  • Saat ditanya tentang masa lalu, mereka akan menjawab dengan keraguan, seperti "saya rasa" atau "mungkin saya salah". Bertahun-tahun diberitahu bahwa ingatan mereka tidak benar menciptakan hubungan yang retak. Mereka merasa lebih aman untuk meragukan diri sendiri terlebih dahulu daripada mengingat dengan jelas.

    Editor: Setyo Adi Nugroho
    Tags
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore