Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Oktober 2025, 21.12 WIB

Kunjungan ke Kampung Halaman Nenek-Kakek: Memahami Bahasa Sunyi Kehidupan Mereka untuk Pertama Kali

Ilustrasi sebuah pemandangan di kota kecil di Sisilia atau Italia Selatan, dengan jalanan batu dan bangunan tua./Freepik - Image

Ilustrasi sebuah pemandangan di kota kecil di Sisilia atau Italia Selatan, dengan jalanan batu dan bangunan tua./Freepik

JawaPos.com - Penulis artikel ini tidak mengunjungi Sisilia untuk mengejar kisah asal-usul yang romantis, tetapi ia merasa tidak nyaman karena sering menceritakan hal-hal kabur tentang kakek-neneknya kepada cucu-cucunya.

Kepergian kakek-neneknya membawa serta ribuan pertanyaan yang tidak pernah sempat ditanyakan oleh sang penulis.

Hal ini mendorongnya untuk membeli tiket ke pulau yang ditinggalkan kakek-neneknya saat remaja, bertekad menemukan jawaban melalui jejak langkah mereka di sana.

Penulis berjanji akan menyusuri jalanan kampung halaman mereka sampai ada sesuatu yang terhubung, atau setidaknya sampai ia bisa mengucapkan nama kota itu persis seperti yang dulu kakek-neneknya lakukan.

Ia berharap melalui kunjungan ini dapat mempelajari "tata bahasa" kehidupan mereka yang tidak pernah terucapkan. Melansir dari geediting.com Sabtu (18/10).

1. Peta Dapur yang Menjadi Pusat Dunia Mereka

Penulis tumbuh di bawah peta dapur yang penuh coretan, yaitu peta yang tidak mencantumkan semua jalanan utama. Peta itu menunjukkan lokasi setiap toko roti, gereja kecil, dan sudut tempat kakek-neneknya dulu berciuman sebelum emigrasi. Peta tersebut melambangkan bahwa pusat dunia mereka ada di sudut-sudut itu, yaitu tempat cinta pertama dan kehidupan awal mereka terjadi.

2. Belajar Mengucapkan Nama Kota dengan Tepat

Orang tua penulis selalu melafalkan nama kota itu dengan versi Amerika yang kaku, padahal cara pengucapan kakek-neneknya memiliki jeda dan juga ritme yang berbeda. Ketika seorang pemilik toko roti lokal mengucapkan nama itu, penulis merasakan getaran nyata yang membawa mereka kembali ke masa lalu. Mengucapkan nama itu dengan benar membuat penulis merasa mendapatkan izin untuk memiliki bagian dari sejarah mereka.

3. Buku Besar Lama dan Getaran Emosional

Di ruang kota yang sunyi, penulis menemukan buku besar berdebu dari tahun 1930, yaitu daftar registrasi penduduk. Mencari di antara nama-nama yang kabur, penulis menemukan nama kakeknya dan merasakan getaran di tangannya. Saat meletakkan telapak tangannya di atas nama itu, penulis membisikkan "Saya menemukanmu," seolah-olah menyelesaikan perburuan harta karun emosional.

4. Sudut Tempat Mereka Berciuman Pertama Kali

Semua cerita asal-usul di keluarganya selalu melibatkan satu sudut tertentu di dekat toko roti yang sudah tidak ada lagi. Berdiri di sudut itu, penulis mencoba membayangkan menjadi muda di tempat yang semua orang tahu kebiasaan dan juga rasa lapar Anda. Privasi di dunia kakek-neneknya adalah sesuatu yang diciptakan dengan mata, yaitu dengan sengaja memalingkan pandangan agar cinta bisa tumbuh tanpa disorot.

5. Memahami Kebiasaan Memasak Porsi Besar

Lonceng gereja berbunyi siang dan alun-alun menjadi kosong seketika, yang membuat penulis menyadari bahwa rasa lapar di sana dihormati dengan serius. Neneknya selalu menyiapkan makan malam tepat jam lima dan memasak untuk satu pasukan kecil, yang dulu sering penulis goda. Penulis baru mengerti bahwa neneknya selalu membuat porsi besar karena menghargai waktu makan sebagai momen yang dijadwalkan dan diantisipasi.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore