Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Oktober 2025, 01.47 WIB

7 Novel Klasik yang Dianggap Mahakarya oleh Generasi Boomer Namun Sulit Dinikmati Pembaca Muda

Ilustrasi tumpukan buku-buku tebal dan klasik./Freepik - Image

Ilustrasi tumpukan buku-buku tebal dan klasik./Freepik

JawaPos.com - Dunia literatur seringkali terbagi antara karya-karya penting yang dihormati dan buku-buku yang benar-benar bisa dinikmati pembaca secara umum.

Novel-novel tertentu yang dianggap revolusioner oleh generasi Boomer kini terasa memberatkan bagi pembaca muda.

Generasi muda saat ini terbiasa dengan narasi yang lebih ringkas dan langsung, sehingga gaya penulisan yang padat terasa seperti tugas sekolah.

Karya-karya ini sungguh-sungguh layak mendapat pujian karena memerlukan upaya keras, namun, ia menuntut gaya membaca yang tidak lagi umum bagi kebanyakan pembaca fiksi masa kini, Melansir dari Geediting.com Senin (20/10).

Mari kita telaah tujuh buku yang sering disebut mahakarya oleh pembaca dari generasi Boomer.

Buku-buku ini justru dianggap hampir mustahil untuk diselesaikan oleh generasi yang lebih muda.

1. Ulysses oleh James Joyce

Mahakarya modernis tahun 1922 ini sering disebut sebagai Gunung Everest dalam literatur. Setiap babnya menggunakan gaya yang berbeda-beda, dengan bagian kesadaran (stream-of-consciousness) yang sangat menguras stamina pembaca. Satu bagian yang terkenal adalah monolog tanpa tanda baca sepanjang 60 halaman.

Generasi Boomer yang terpelajar berbicara dengan rasa hormat tentang teknik revolusioner novel ini. Namun, pembaca muda biasanya menyerah pada bab ketiga, saat Joyce tiba-tiba beralih ke monolog internal murni.

2. Moby-Dick oleh Herman Melville

Semua orang tahu kisah dasar tentang kapten terobsesi yang memburu paus putih. Namun, faktanya adalah Moby Dick sendiri hanya muncul sekitar 30 halaman dari total 600 halaman novel. Melville menyisipkan seluruh bab ensiklopedis tentang anatomi paus, ekonomi perburuan, dan teknik pembuatan tali di antara narasi utama.

Para Boomer yang menyukai novel ini menganggap penyimpangan tersebut sebagai meditasi yang mendalam. Kebanyakan pembaca lain mempertanyakan mengapa novel ini tidak disunting menjadi lebih ringkas.

3. Gravity's Rainbow oleh Thomas Pynchon

Novel Pynchon tahun 1973 tentang roket V-2 dalam Perang Dunia II ini sangat ambisius. Novel ini juga sangat sulit untuk diikuti alur ceritanya. Plotnya terfragmentasi menjadi ratusan karakter yang berbeda-beda.

Adegan-adegan melompat antara kenyataan dan halusinasi tanpa petunjuk jelas, dihiasi dengan humor yang kasar. Akademisi dan Boomer yang berdedikasi memuji kerumitan dan ambisinya. Kebanyakan pembaca menyerah setelah 100 halaman karena mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore