Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Oktober 2025, 18.33 WIB

Penjelasan Ilmiah Kenapa Saat Langit Mendung, Mood Ikut Turun

Ilustrasi perempuan menggunakan payung saat hujan

JawaPos.com - Pernah merasa murung saat langit mendung atau hujan turun tanpa henti? Ternyata, ada dasar ilmiah di balik perasaan itu. Menurut jurnal yang ditulis Weida Zhang dari Huaibei Normal University di China, kondisi cuaca memang memengaruhi emosi dan kesehatan mental manusia.

Dalam jurnal berjudul How Weather Conditions Affect Well-Being: An Explanation from the Perspective of Environmental Psychology, Zhang bersama Wenzhang Li dari Jiangxi Normal University menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis (well-being) seseorang dapat berubah tergantung kondisi cuaca di sekitarnya.

Mereka menganalisis 91 penelitian ilmiah yang diterbitkan selama lebih dari satu abad, dari tahun 1900 hingga 2023.

Peneliti menemukan bahwa cahaya matahari, suhu, kelembapan, dan kualitas udara menjadi faktor utama yang memengaruhi suasana hati. Saat sinar matahari berkurang, tubuh memproduksi lebih banyak melatonin (hormon pengatur tidur) sehingga seseorang menjadi mudah lelah dan cenderung murung.

Sebaliknya, paparan cahaya alami membantu menekan melatonin dan meningkatkan serotonin (zat kimia otak yang mengatur rasa bahagia).

Zhang menulis bahwa paparan sinar matahari yang cukup juga meningkatkan produksi vitamin D, nutrisi penting yang membantu mencegah depresi. Cuaca gelap dan lembap menurunkan kadar vitamin D dalam tubuh, yang kemudian berdampak pada kestabilan mood seseorang.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lebih lesu dan kurang bersemangat saat musim hujan atau mendung.

Selain itu, suhu ekstrem dan kelembapan tinggi juga memengaruhi kenyamanan fisik dan psikologis. Dalam jurnal disebutkan bahwa suhu ideal yang paling mendukung kebahagiaan berada di kisaran 10–21 derajat Celsius.

Suhu terlalu panas atau dingin menurunkan kenyamanan dan memicu stres. “Cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko depresi, terutama pada orang tua dan remaja,” tulis Zhang dalam laporannya.

Faktor lingkungan lain yang berpengaruh adalah kualitas udara. Peneliti menemukan bahwa polusi udara dengan kadar PM2.5 (partikel debu halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer) dapat menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan tekanan psikologis. Udara bersih dan paparan alam terbuka berperan besar dalam menjaga keseimbangan mental.

Meski begitu, dampak cuaca tidak sama pada setiap individu. Efeknya tergantung pada usia, jenis kelamin, serta gaya hidup. Orang yang rutin berolahraga, sering beraktivitas di luar ruangan, dan menjaga asupan nutrisi lebih tahan terhadap pengaruh cuaca terhadap suasana hati.

Zhang dan Li menyimpulkan bahwa memahami hubungan antara cuaca dan emosi penting bagi kesehatan publik. Mereka menyarankan agar masyarakat tetap aktif bergerak dan mencari paparan cahaya alami, bahkan di hari mendung. Peningkatan pencahayaan di ruang kerja dan rumah juga dapat membantu menjaga kestabilan suasana hati.

Cuaca memang tidak bisa dikendalikan, tetapi respons tubuh terhadapnya bisa dikelola. Menurut penelitian ini, menjaga keseimbangan antara aktivitas, paparan cahaya, dan udara segar bisa menjadi kunci agar suasana hati tetap stabil di segala musim.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore