Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Oktober 2025, 05.03 WIB

10 Perilaku Penting Pemisah Para Pemenang dan Mereka yang Menyerah, Ketahanan Diri Ternyata Sebuah Keterampilan Harian

Ilustrasi seorang wanita sedang memegang secangkir teh dan tersenyum melihat ke arah jendela di rumah./Freepik - Image

Ilustrasi seorang wanita sedang memegang secangkir teh dan tersenyum melihat ke arah jendela di rumah./Freepik

JawaPos.com - Menghadapi kesulitan hidup dapat dilihat sebagai ujian penting yang memisahkan mereka yang bertahan dan mampu tumbuh dari orang-orang yang memilih untuk berhenti di tengah jalan.

Penulis telah mengamati pola perilaku serupa pada orang-orang yang terus maju, bahkan ketika logika mengatakan mereka seharusnya sudah menyerah saja.

Setelah dua dekade mengamati ketahanan dalam berbagai situasi kehidupan, ditemukan ada sepuluh perilaku yang secara jelas membedakan antara "penyintas" dan "orang yang menyerah", melansir dari Global English Editing Jumat (24/10).

Ketahanan ternyata bukanlah sifat bawaan yang dimiliki oleh sedikit orang saja, melainkan sekumpulan keterampilan yang perlu terus dilatih setiap hari agar menjadi semakin kuat dalam menghadapi badai.

1. Penyintas Memulai dengan Kecil, Kemudian Mengulanginya

Orang yang mudah menyerah cenderung menunggu rencana yang sempurna atau waktu yang tepat untuk memulai sebuah perubahan besar di hidupnya. Sebaliknya, orang yang tangguh akan mengambil langkah kecil berikutnya, lalu mengulanginya sampai sebuah jalur baru terlihat jelas di depan mata mereka. Memulai dengan hal kecil bukanlah tanda kemalasan atau ketidakseriusan, melainkan cara yang efektif untuk mendapatkan dorongan dan momentum di tengah kesulitan. Sebuah tindakan kecil yang dapat diulang bahkan pada hari terburuk sekalipun, ternyata lebih baik daripada niat besar yang tidak dapat diwujudkan.

2. Penyintas Menceritakan Peristiwa Tanpa Menjadikannya Seluruh Kisah Hidup

Saat mengalami kegagalan, orang yang menyerah membiarkan peristiwa itu mendefinisikan seluruh jati dirinya, misalnya: "Saya gagal, jadi saya adalah seorang pecundang sejati." Orang yang tangguh berhasil memisahkan babak yang menyakitkan itu dari keseluruhan cerita hidupnya, selalu menyisakan ruang untuk sekuel baru yang lebih baik. Mereka tetap mengatakan kebenaran tentang luka yang dialami, namun mereka tidak membiarkan luka itu menulis keseluruhan nasib di masa depan. Meskipun tidak selalu dapat mengontrol plot cerita hidup, kita selalu memiliki kendali penuh atas bagaimana kita bertindak sebagai naratornya.

3. Penyintas Membangun Sistem yang Biasa Saja, Namun Sangat Membantu

Sikap menyerah seringkali bersembunyi di balik kekacauan, seperti kunci yang hilang, tagihan yang terlambat, atau jadwal tidur yang sangat acak dan tidak beraturan setiap hari. Orang yang tangguh akan mengurangi hambatan dengan sistem yang sederhana: kunci diletakkan di gantungan dekat pintu atau transfer otomatis untuk tagihan bulanan. Ketahanan diri meningkat saat kita berhenti mencoba membuat pilihan heroik, lalu fokus pada keputusan yang lebih sedikit dan lebih terstruktur setiap harinya. Rutinitas sederhana seperti menulis tiga baris di buku harian sebelum tidur telah membantu penulis melewati masa-masa yang terasa tidak penting, tetapi tetap perlu dilakukan.

4. Penyintas Melakukan Perbaikan dengan Cepat

Orang yang mudah menyerah menganggap perbaikan sebagai pilihan dan harga diri adalah hal yang wajib dipertahankan agar mereka tidak merasa malu. Orang yang tangguh segera meminta maaf, memperbaiki apa yang mereka bisa lakukan, dan belajar di depan umum tanpa harus pura-pura menjadi sempurna. Perbaikan yang cepat akan mendorong hidup maju ke depan, sedangkan menyalahkan orang lain hanya akan membuat Anda terhenti dan kehilangan momen penting yang mesti dikejar. Jaga selalu aturan perbaikan 24 jam untuk segala ketidaknyamanan yang terjadi, baik yang disebabkan oleh diri sendiri maupun orang lain di sekitar Anda.

5. Penyintas Memilih Lingkaran Pertemanan Secara Selektif

Kita cenderung menjadi seperti suasana ruangan tempat kita berada dan berinteraksi setiap hari. Orang yang menyerah memilih bergaul dengan lingkaran yang selalu menyebarkan rasa suram dan keputusasaan dalam hidup. Orang yang tangguh memilih untuk membina hubungan dengan orang-orang yang membuat mereka tenang, baik hati, dan selalu menghindari gosip atau keputusasaan. Ketahanan bukan olahraga solo, tetapi permainan tim dengan usaha individu yang sangat besar di dalamnya.

6. Penyintas Menerapkan Prinsip "Cukup Baik" Sesuai Tujuan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore