Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 November 2025, 15.29 WIB

Jika Seseorang Menggunakan 7 Kata Ini Saat Meminta Maaf, Mereka Mencoba Mengalihkan Kesalahan Bukan Bertanggung Jawab Menurut Psikologi

seseorang yang sering mengalihkan kesalahan saat meminta maaf./Freepik/hryshchyshen - Image

seseorang yang sering mengalihkan kesalahan saat meminta maaf./Freepik/hryshchyshen

JawaPos.com - Dalam dinamika hubungan—baik cinta, keluarga, maupun pekerjaan—permintaan maaf adalah jembatan penting untuk memperbaiki yang retak.

Namun, tidak semua maaf tercipta sama.

Ada permintaan maaf yang tulus, membuka ruang dialog, dan mengakui kesalahan secara jujur.

Tapi ada pula maaf manipulatif: terdengar benar, namun ujungnya menyalahkan orang lain, merelakan diri sebagai korban, atau menghindari tanggung jawab.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (4/11), menurut psikologi, kata-kata yang dipilih ketika seseorang meminta maaf dapat menjadi petunjuk apakah ia merupakan pribadi yang mampu bertanggung jawab atau justru melindungi ego.

Mereka yang sulit mengakui kesalahan cenderung menggunakan bahasa defensif, menyelipkan justifikasi, bahkan memutar balik kesalahan.

Menariknya, ada tujuh kata atau frasa yang sering digunakan dalam permintaan maaf manipulatif.

Jika frasa-frasa ini muncul, waspadalah—karena bisa jadi permintaan maaf tersebut bukan tentang memperbaiki hubungan, tetapi tentang mengalihkan tanggung jawab.

Mari kita bahas satu per satu.

1) “Tapi…”

Kalimat permintaan maaf yang diakhiri dengan “tapi” pada hakikatnya membatalkan maaf itu sendiri.
Contoh:

“Maaf ya, tapi kamu juga salah.”

Kata “tapi” menunjukkan bahwa ia berusaha membenarkan tindakannya dan menyiratkan bahwa Anda sebenarnya penyebab masalah.

Dalam psikologi komunikasi, ini dikenal sebagai pseudo-apology—bentuk maaf yang tidak tulus dan tidak mengakui kesalahan sepenuhnya.

2) “Kalau / jika kamu tidak…”

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore