Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 November 2025, 00.35 WIB

Orang yang Hampir Tidak Punya Teman Dekat Biasanya Mengirimkan 7 Sinyal Ini yang Membuat Orang Lain Menjauh Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tidak memiliki teman dekat


JawaPos.com - Dalam perjalanan hidup, manusia tumbuh dengan kebutuhan untuk terhubung. 

 
Memiliki teman dekat bukan hanya sekadar soal menemani nongkrong atau berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang emosional tempat kita merasa dipahami. 
 
Namun, kenyataannya tidak semua orang memiliki lingkaran intim yang kuat. 
 
 
Ada yang mendapati dirinya semakin kesepian—bukan karena tidak mencoba, melainkan karena tanpa disadari mengirimkan sinyal yang membuat orang lain menjauh.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (4/11), menurut psikologi, ada beberapa pola perilaku yang kerap muncul pada orang yang kesulitan membangun pertemanan dekat. 
 
Bukan berarti mereka buruk, tetapi sering kali itu adalah respons defensif dari pengalaman hidup. 
 
Berikut tujuh sinyal paling umum yang membuat orang lain menjaga jarak.
 
Baca Juga: Orang yang Merasa Kesepian di Masa Pensiun Biasanya Memiliki 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi

1. Terlalu Tertutup Secara Emosional


Beberapa orang membangun dinding tebal di sekeliling dirinya. 
 
Mereka sulit cerita tentang diri sendiri, bahkan hal sederhana sekalipun. 
 
Akibatnya, orang lain merasa hubungan tidak berkembang.

Secara psikologis, ini bisa muncul karena pengalaman buruk, rasa takut dihakimi, atau trauma pengkhianatan. 
 
Meski niatnya melindungi diri, tapi justru membuat jarak. 
 
Tanpa keterbukaan, hubungan hanya akan berhenti di permukaan.

2. Sering Merasa Curiga dan Sulit Percaya


Orang yang hampir tidak punya teman dekat cenderung waspada berlebihan. 
 
Mereka menilai niat orang lain dengan kacamata negatif—merasa akan dimanfaatkan, dikhianati, atau direndahkan.

Psikologi menyebut ini sebagai hypervigilance yang biasanya tumbuh dari pengalaman masa lalu. 
 
Namun jika dibiarkan, orang lain akan merasa energi yang hadir adalah ketegangan, bukan kenyamanan. 
 
Sulit berkembang menjadi pertemanan yang tulus.

3. Terlalu Banyak Mengeluh atau Berpikir Pessimistic


Sikap negatif bisa menjadi awan gelap dalam interaksi. 
 
Orang yang terus-menerus mengeluh, mencela hidup, atau pesimis tanpa mau berubah cenderung menguras energi orang di sekitarnya.

Menurut studi interpersonal, manusia tertarik pada individu yang menghadirkan kenyamanan dan stabilitas emosional. 
 
Bukan berarti harus selalu ceria, tetapi ketidakseimbangan emosional dapat memicu orang menjauh.

4. Tidak Bisa Mengambil Perspektif Orang Lain


Dalam pertemanan, kemampuan memahami sudut pandang orang lain—perspective taking—adalah fondasi penting. 
 
Orang yang kurang empati sering terkesan tidak peduli, hanya fokus pada diri sendiri, atau tidak mengerti perasaan orang lain.

Akibatnya, interaksi terasa seperti monolog, bukan dialog. 
 
Hubungan pun tidak terbangun secara hangat.

5. Terlihat Tidak Menghargai Batasan


Ada pula orang yang tanpa sadar melanggar batasan sosial: terlalu cepat dekat, ingin tahu urusan pribadi, atau menuntut perhatian berlebihan. 
 
Ini sering terjadi karena rasa kesepian yang mendalam, sehingga muncul perilaku impulsif untuk mengisi kekosongan.

Namun, bagi orang lain, itu terasa menekan. 
 
Mereka pun mundur untuk melindungi ruang personalnya.

6. Cenderung Kompetitif, Bukan Kolaboratif

Beberapa orang secara refleks menjadikan semua percakapan sebagai kompetisi: siapa yang lebih banyak pencapaiannya, lebih menderita, atau lebih “benar.” 
 
Alih-alih menjadi teman bicara yang suportif, mereka berperan sebagai rival.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai comparative orientation. 
 
Hubungan terasa tidak setara, sehingga banyak orang enggan dekat.

7. Tidak Konsisten: Kadang Hadir, Kadang Menghilang


Walau komunikasi adalah jembatan, konsistensi adalah batu pijaknya. 
 
Orang yang sering muncul lalu menghilang tanpa penjelasan akan sulit dipercaya secara emosional. 
 
Teman lain merasa hubungan tidak dapat diandalkan.

Ketidakkonsistenan ini bisa disebabkan oleh kecemasan sosial, kurangnya prioritas, atau ketidakmampuan mengelola waktu. 
 
Apa pun penyebabnya, hubungan akan sulit berkembang lebih dalam.

Mengapa Sinyal Ini Bisa Muncul?

Semua perilaku di atas tidak muncul dari ruang kosong. 
 
Mereka sering dirangkai oleh pengalaman pahit: penolakan, pengkhianatan, pola asuh dingin, atau rasa rendah diri yang panjang.

Otak belajar bahwa kedekatan itu berbahaya. 
 
Maka ia menciptakan mekanisme bertahan, walaupun pada akhirnya justru menutup kesempatan untuk memiliki koneksi hangat.

Bisakah Itu Diperbaiki?

Tentu. Membentuk hubungan sosial adalah keterampilan yang bisa dipelajari.

Beberapa langkah awal:
Belajar membuka diri sedikit demi sedikit
Menyadari bahwa tidak semua orang berniat buruk
Melatih empati dan mendengarkan
Mengelola pikiran negatif
Menghargai batasan
Menjaga konsistensi dalam komunikasi

Jika trauma masa lalu begitu kuat, bantuan profesional seperti psikolog bisa sangat membantu.

Kesimpulan


Tidak punya teman dekat bukan berarti seseorang gagal secara sosial.
 
Sering kali, mereka hanya membawa bekas luka psikologis yang belum tersentuh. Ironisnya, mekanisme pertahanan diri yang mereka bangun justru menciptakan sinyal yang membuat orang menjauh.

Dengan memahami tujuh sinyal ini, kita bisa lebih sadar terhadap diri sendiri maupun orang lain—bahwa di balik jarak yang terbentuk, ada cerita yang belum terungkap.
 
Dan pada akhirnya, setiap orang layak untuk merasakan hangatnya hubungan yang tulus.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore