Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 November 2025, 14.57 WIB

Jika Anda Tidak Bisa Menjalani Hari Tanpa Ngemil di Malam Hari, Anda Mungkin Memiliki 7 Kebiasaan Aneh Ini Menurut Psikologi

seseorang yang selalu ngemil di malam hari./ Freepik/user21473825 - Image

seseorang yang selalu ngemil di malam hari./ Freepik/user21473825

JawaPos.com - Banyak orang menganggap ngemil di malam hari hanyalah kebiasaan kecil yang tidak berbahaya.

Namun, bagi sebagian orang, ritual mengunyah camilan sebelum tidur terasa seperti kebutuhan penting—bahkan wajib.

Jika Anda termasuk tipe yang tidak bisa tidur sebelum membuka bungkus keripik, meraih biskuit, atau meneguk segelas minuman manis, Anda mungkin tidak sendirian.

Menurut psikologi, kebiasaan ini dapat muncul dari pola pikir tertentu, respons emosional, hingga kondisi bawah sadar yang sulit dikendalikan.

Dan yang menarik, orang dengan kecenderungan ini sering memunculkan karakter atau kebiasaan unik yang tidak selalu disadari.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (6/11), terdapat 7 kebiasaan aneh yang mungkin Anda miliki jika Anda tidak bisa menjalani hari tanpa ngemil di malam hari, menurut sudut pandang psikologi.

1. Anda Menjadi “Penunda Rasa Puas” Secara Selektif

Menariknya, banyak pelaku ngemil malam adalah orang yang bisa menunda kesenangan sepanjang hari—hingga berlebihan.

Mereka menahan keinginan makan enak di siang hari, lalu “balas dendam” di malam hari.

Fenomena ini dikenal sebagai revenge bedtime snacking, di mana seseorang mencari kenikmatan kecil setelah melewati hari yang melelahkan.

Anda mungkin menahan banyak hal, tapi ketika malam tiba, snack adalah hadiah yang terasa pantas.

2. Emosi Anda Lebih Stabil Setelah Makan Kecil

Camilan di malam hari terkadang bukan hanya soal lapar. Beberapa orang mendapati bahwa makan sedikit sebelum tidur memberi rasa tenang, hangat, dan nyaman.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan emotion-based eating, yaitu makan sebagai respons untuk menenangkan perasaan.

Orang dengan kebiasaan ini lebih peka terhadap emosi mereka—namun cenderung meredakannya lewat makanan, bukan melalui pengelolaan emosi sehat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore