Perbedaan budaya konsumtif belanja orang kelas menengah dan orang miskin.
JawaPos.com – Budaya konsumtif membentuk perilaku belanja yang berbeda antara orang kelas menengah dan orang miskin.
Orang kelas menengah cenderung berbelanja dengan strategi dan prioritas tertentu, berbeda dengan orang miskin yang lebih pragmatis.
Perbedaan budaya konsumtif ini terlihat jelas dalam cara memilih, membeli, dan memanfaatkan barang sehari-hari.
Budaya konsumtif memengaruhi pola pikir dan keputusan finansial, sehingga cara belanja kelas menengah dan miskin tidak sama.
Dilansir dari geediting.com pada Kamis (4/12), bahwa ada sembilan perbedaan budaya konsumtif yang mencolok cara belanja orang kelas menengah dan orang miskin.
Mereka yang mapan secara finansial cenderung berpikir jangka panjang dalam hitungan bulan bahkan tahun ke depan.
Mereka membuat anggaran, mencatat pengeluaran, dan menyiapkan dana darurat untuk menghadapi kejutan tak terduga seperti ban bocor atau tagihan medis.
Sebaliknya, mereka yang kesulitan finansial sering hidup dalam mode reaksi sehingga uang yang masuk langsung habis untuk memadamkan berbagai masalah mendesak.
Pola ini terus berulang karena tidak ada ruang untuk bernapas apalagi merencanakan masa depan dengan lebih matang dan terstruktur.
Waktu adalah mata uang yang sama berharganya dengan uang dalam kehidupan sehari-hari kita semua.
Kelompok mapan memahami konsep ini sehingga rela mengeluarkan uang untuk menghemat waktu seperti menyewa jasa bersih-bersih atau pesan makanan siap saji.
