Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Desember 2025, 21.47 WIB

Jika Anda Pernah Berpura-Pura Sakit untuk Menghindari Keluar Rumah, 9 Kebenaran Ini Akan Terasa Sangat Menguatkan Menurut Psikologi

seseorang yang pernah berpura-pura sakit./Freepik/stockking - Image

seseorang yang pernah berpura-pura sakit./Freepik/stockking

JawaPos.com - Ada masa ketika alasan “lagi kurang enak badan” bukan benar-benar tentang flu atau pusing, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih halus: kelelahan mental, kecemasan sosial, atau kebutuhan mendesak untuk merawat diri sendiri. Dan jika Anda pernah melakukannya, itu bukan kelemahan.

Itu adalah sinyal—tanda bahwa ada sesuatu di dalam diri Anda yang sedang meminta ruang dan perhatian.

Psikologi modern memahami bahwa manusia tidak hanya sakit secara fisik. Kita juga “bisa sakit” secara emosional, mental, dan sosial.

Dan sering kali, tubuh mengirimkan kode-kode samar yang kita terjemahkan menjadi alasan sederhana: Maaf, aku nggak bisa. Aku lagi nggak enak badan.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (10/12), terdapat sembilan kebenaran yang mungkin terasa sangat menguatkan jika Anda pernah berpura-pura sakit untuk tidak keluar rumah—dan semuanya memiliki dasar dalam psikologi.

1. Kadang Anda tidak ingin keluar rumah bukan karena malas, tetapi karena sistem saraf Anda sudah kewalahan

Stres yang menumpuk bisa membuat tubuh terasa berat dan pikiran terasa padat. Psikologi menyebutnya emotional overload. Menghindari aktivitas sosial bisa menjadi mekanisme alami untuk menurunkan tegangnya sistem saraf.

2. ‘Pura-pura sakit’ sering kali adalah bahasa lain dari “Aku butuh istirahat tapi tidak tahu cara mengatakannya”

Banyak orang kesulitan menolak ajakan karena takut mengecewakan orang lain. Ini disebut people-pleasing tendency. Maka, alasan “sakit” menjadi cara aman untuk menciptakan jarak tanpa konflik.

3. Tindakan itu bisa jadi bentuk awal dari boundary setting

Meskipun caranya tidak langsung, keputusan untuk tidak hadir adalah upaya melindungi diri. Psikologi menyebutnya indirect boundary. Mungkin belum tegas, tetapi itu langkah pertama menuju batasan yang lebih sehat.

4. Anda mungkin mengalami social fatigue, kondisi nyata yang diakui psikologi

Bukan semua orang punya tingkat energi sosial yang sama. Beberapa orang “habis baterai” lebih cepat ketika berada di tengah banyak orang. Social fatigue membuat kebutuhan menyendiri menjadi kebutuhan biologis, bukan pilihan egois.

5. Otak Anda bisa menciptakan gejala fisik pada saat stres—jadi Anda tidak benar-benar ‘berpura-pura’

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore