Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Desember 2025, 13.05 WIB

Orang yang Tidak Tahan dengan Keheningan yang Canggung Ternyata Memiliki Empati yang Mendalam Menurut Psikologi

seseorang yang tidak tahan dalam keheningan./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang tidak tahan dalam keheningan./Freepik/EyeEm

Jawapos.com - Keheningan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang menenangkan. Namun, tidak semua jenis diam membawa rasa damai.

Ada satu bentuk keheningan yang justru membuat banyak orang gelisah: keheningan yang canggung. Saat percakapan tiba-tiba terhenti, tatapan saling menghindar, dan waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (16/12), menurut psikologi, orang-orang yang tidak tahan dengan keheningan semacam ini sering kali bukan karena mereka lemah, cerewet, atau tidak percaya diri, melainkan karena mereka memiliki empati yang tinggi dan kepekaan emosional yang mendalam. Mereka bukan sekadar ingin bicara—mereka ingin menjaga perasaan orang lain.

1. Keheningan Canggung Bukan Sekadar Diam, Tapi Sinyal Emosional

Dalam psikologi sosial, keheningan yang canggung dipahami sebagai ketidakseimbangan emosional dalam interaksi. Saat percakapan berhenti secara tidak alami, otak secara otomatis mencari makna:

Apakah ada yang tersinggung?

Apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?

Apakah orang di depan saya merasa tidak nyaman?

Orang dengan empati tinggi sangat peka terhadap sinyal-sinyal semacam ini. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga merasakan suasana. Karena itu, keheningan terasa “berisik” bagi mereka—dipenuhi kemungkinan emosi yang belum terungkap.

2. Otak Empatik Selalu Berusaha Menjaga Kenyamanan Sosial

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa individu dengan empati kuat cenderung memiliki social monitoring yang tinggi. Artinya, otak mereka terus-menerus memantau:

Ekspresi wajah

Bahasa tubuh

Nada suara

Perubahan suasana hati lawan bicara

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore