Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Desember 2025, 04.32 WIB

Orang yang Menua dengan Bijaksana dan Bukan dengan Kepahitan Biasanya Mempraktikkan 9 Kebiasaan Harian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menua dengan bijaksana./Freepik/freepik - Image

seseorang yang menua dengan bijaksana./Freepik/freepik

JawaPos.com - Menua adalah proses yang tak terelakkan. Namun, cara seseorang menjadi tua sangat berbeda antara satu individu dengan yang lain.

Ada orang yang semakin bertambah usia justru tampak damai, lapang dada, dan penuh kebijaksanaan. Di sisi lain, ada pula yang semakin sinis, mudah tersinggung, dan menyimpan banyak kepahitan terhadap hidup.

Psikologi modern menegaskan bahwa perbedaan ini bukan semata-mata soal nasib, kesehatan, atau keberuntungan hidup.

Ia sangat dipengaruhi oleh kebiasaan harian kecil yang dilakukan seseorang selama bertahun-tahun. Kebiasaan inilah yang secara perlahan membentuk cara berpikir, cara merespons luka, dan cara memaknai perjalanan hidup.

Orang yang menua dengan bijaksana bukan berarti hidupnya bebas dari penderitaan. Justru sebaliknya—mereka pernah kecewa, gagal, dan terluka.

Namun, alih-alih membiarkan luka itu mengeras menjadi kepahitan, mereka memilih mengolahnya menjadi pelajaran.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (20/12), menurut psikologi, terdapat 9 kebiasaan harian yang hampir selalu ditemukan pada orang-orang yang menua dengan tenang, jernih, dan penuh kebijaksanaan.

1. Mereka Menerima Kenyataan Tanpa Terjebak Penyangkalan

Salah satu ciri utama orang yang menua dengan bijaksana adalah kemampuan menerima kenyataan. Mereka tidak menghabiskan energi untuk menyangkal usia, perubahan tubuh, atau fakta bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Psikologi menyebut ini sebagai acceptance, yaitu penerimaan aktif—bukan pasrah, tetapi berdamai. Orang yang memiliki kebiasaan ini tidak berkata, “Hidup saya hancur karena tidak seperti dulu.” Sebaliknya, mereka berpikir, “Hidup berubah, dan saya bisa belajar menyesuaikan diri.”

Penerimaan inilah yang mencegah lahirnya kepahitan kronis.

2. Mereka Merefleksikan Hidup, Bukan Menyesalinya

Orang yang pahit cenderung mengulang-ulang penyesalan. Orang yang bijaksana memilih refleksi. Bedanya tipis, tetapi dampaknya besar.

Refleksi bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari?”
Penyesalan bertanya: “Mengapa saya sebodoh itu?”

Secara psikologis, refleksi membantu otak memproses pengalaman sebagai pembelajaran, bukan sebagai hukuman diri. Kebiasaan ini membuat seseorang merasa hidupnya bermakna, bahkan ketika tidak sempurna.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore