Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2025, 01.01 WIB

Psikologi Mengatakan Bahwa Pria yang Sangat Tidak Bahagia Sering Kali Menunjukkan 8 Perilaku Ini Tanpa Menyadarinya

seseorang yang sangat tidak bahagaia./Freepik/freepik - Image

seseorang yang sangat tidak bahagaia./Freepik/freepik

JawaPos.com - Kebahagiaan pada pria sering kali disalahpahami. Banyak pria tampak “baik-baik saja” di permukaan—bekerja keras, bercanda dengan teman, menjalankan tanggung jawab—namun di dalamnya menyimpan kelelahan emosional yang dalam.

Psikologi menunjukkan bahwa ketidakbahagiaan pada pria jarang muncul dalam bentuk tangisan atau keluhan terbuka.

Sebaliknya, ia hadir lewat pola perilaku halus yang kerap dianggap wajar, bahkan “sifat lelaki”.

Ironisnya, pria yang paling tidak bahagia sering kali tidak sadar bahwa perilaku mereka adalah sinyal batin yang sedang terluka.

Dilansir dari Geediting pada Senin (22/12), terdapat delapan perilaku yang menurut psikologi sering muncul pada pria yang sangat tidak bahagia, tanpa mereka sadari.

1. Menarik Diri Secara Emosional, Bukan Fisik

Pria yang tidak bahagia belum tentu menghilang secara fisik. Mereka masih hadir—di rumah, di kantor, di tongkrongan.

Namun secara emosional, mereka menjauh. Respons menjadi singkat, percakapan terasa datar, dan empati perlahan menghilang.

Psikologi menyebut ini sebagai emotional withdrawal. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena mereka merasa terlalu lelah untuk terhubung. Emosi dianggap beban tambahan yang tak sanggup lagi mereka pikul.

2. Mudah Tersinggung oleh Hal-Hal Sepele

Ketidakbahagiaan yang ditekan sering berubah menjadi iritabilitas. Pria yang sangat tidak bahagia bisa tampak cepat marah, defensif, atau sinis—bahkan terhadap hal kecil yang sebelumnya tidak masalah.

Menurut psikologi, ini bukan kemarahan murni, melainkan ekspresi stres emosional yang tidak tersalurkan. Amarah menjadi “bahasa aman” karena lebih dapat diterima secara sosial dibandingkan mengakui kesedihan atau keputusasaan.

3. Terlalu Sibuk untuk Menghindari Diri Sendiri

Bekerja tanpa henti, mengisi jadwal sampai penuh, atau terus mencari distraksi—semua ini sering dipuji sebagai etos kerja tinggi. Namun dalam psikologi, ini juga bisa menjadi mekanisme penghindaran.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore