Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 Desember 2025, 06.22 WIB

Psikologi Mengatakan Nostalgia Dapat Meningkatkan Kebahagiaan, Tetapi Hanya Jika Anda Mengingat Kembali 7 Hal Spesifik Ini

seseorang yang menemukan kebahagiaan saat bernostalgia./Freepik/freepik - Image

seseorang yang menemukan kebahagiaan saat bernostalgia./Freepik/freepik

JawaPos.com - Nostalgia sering disalahpahami sebagai sekadar kerinduan akan masa lalu—tentang lagu lama, foto buram, atau kenangan yang tak bisa diulang.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (24/12), menurut psikologi modern, nostalgia bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan alat emosional yang sangat kuat.

Jika digunakan dengan cara yang tepat, nostalgia justru mampu meningkatkan kebahagiaan, memperkuat identitas diri, dan memberi makna baru pada hidup saat ini.

Namun, tidak semua nostalgia berdampak positif. Mengingat masa lalu secara keliru atau berlebihan justru dapat memicu penyesalan, kesedihan, bahkan rasa kehilangan yang mendalam.

Di sinilah psikologi memberi batas yang jelas: nostalgia hanya akan membuat Anda lebih bahagia jika Anda mengingat kembali hal-hal tertentu—bukan sembarang kenangan.

Lantas, apa saja yang perlu diingat agar nostalgia benar-benar menjadi sumber kebahagiaan, bukan luka emosional? Psikologi menyebutkan tujuh hal spesifik berikut ini.

1. Momen Ketika Anda Merasa Diterima Apa Adanya

Salah satu bentuk nostalgia paling menyehatkan adalah mengingat masa ketika Anda merasa diterima tanpa syarat. Bisa jadi saat bersama keluarga, sahabat lama, atau komunitas kecil yang membuat Anda merasa “pulang”.

Psikologi menyebut pengalaman ini sebagai social connectedness memory. Ketika Anda mengingat momen tersebut, otak akan kembali mengaktifkan rasa aman dan rasa memiliki—dua kebutuhan emosional paling mendasar manusia. Inilah sebabnya nostalgia jenis ini sering membuat hati hangat, bukan perih.

Bukan tentang siapa yang paling sukses, tetapi siapa yang pernah membuat Anda merasa cukup.

2. Versi Diri Anda yang Pernah Berjuang, Bukan yang Sempurna

Nostalgia yang menyehatkan tidak menuntut masa lalu terlihat ideal. Justru, mengingat versi diri yang sedang berjuang—belum mapan, masih ragu, masih belajar—dapat meningkatkan rasa syukur dan kepercayaan diri saat ini.

Psikologi melihat ini sebagai self-continuity, yakni kemampuan melihat hidup sebagai proses, bukan kompetisi. Ketika Anda menyadari sejauh apa Anda telah berkembang, kebahagiaan muncul bukan dari pencapaian, tetapi dari perjalanan.

Anda tidak bahagia karena dulu sempurna, melainkan karena Anda bertahan.

3. Kenangan Sederhana yang Pernah Membuat Anda Tertawa Lepas

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore