
seseorang yang tvnya harus menyala untuk bisa tidur./Freepik/DC Studio
JawaPos.com - Bagi sebagian orang, tidur adalah momen hening: lampu dipadamkan, ponsel dijauhkan, dan pikiran perlahan dilabuhkan ke keheningan. Namun bagi sebagian lainnya, keheningan justru terasa mengganggu.
Televisi harus tetap menyala—entah sebagai suara latar, cahaya temaram, atau sekadar “teman” yang menemani hingga mata terpejam.
Kebiasaan tidur dengan TV menyala sering dianggap sepele atau sekadar preferensi. Padahal, menurut psikologi, kebiasaan ini kerap berkaitan dengan pola emosi, cara berpikir, dan pengalaman hidup seseorang.
Ia bukan sekadar soal tontonan, melainkan cerminan kebutuhan batin yang lebih dalam.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/12), terdapat 10 ciri khas yang sering ditemukan pada orang-orang yang membutuhkan TV menyala agar bisa tidur di malam hari, ditinjau dari sudut pandang psikologi.
1. Sulit Berdamai dengan Keheningan
Keheningan bagi mereka bukan ketenangan, melainkan ruang kosong yang mengundang pikiran berlarian ke mana-mana. Saat suasana sunyi, pikiran justru menjadi lebih bising. TV berfungsi sebagai “penutup suara” yang menahan gelombang pikiran agar tidak terlalu liar.
2. Memiliki Kecenderungan Overthinking
Psikologi menunjukkan bahwa suara latar yang konstan dapat membantu mengalihkan fokus dari pikiran yang berulang-ulang. Orang yang tidur dengan TV menyala sering kali adalah mereka yang mudah menganalisis terlalu dalam—tentang hari ini, masa lalu, atau kekhawatiran esok hari.
3. Membutuhkan Rasa Aman Secara Emosional
Suara manusia dari TV—dialog, tawa penonton, atau narasi—memberi ilusi kehadiran. Ini menciptakan rasa aman, seolah tidak sendirian. Ciri ini sering muncul pada individu yang sangat menghargai koneksi emosional, meski tidak selalu mengungkapkannya secara langsung.
4. Mudah Merasa Sepi, Meski Tidak Selalu Kesepian
Menariknya, banyak dari mereka tidak benar-benar kesepian dalam arti sosial. Mereka bisa punya teman, keluarga, bahkan pasangan. Namun, di malam hari ketika segalanya sunyi, rasa sepi muncul sebagai pengalaman emosional yang halus—dan TV menjadi penawarnya.
5. Pernah Mengalami Fase Hidup yang Menekan
Menurut psikologi, kebiasaan tertentu saat tidur sering terbentuk di masa stres, duka, atau perubahan besar. TV yang menyala bisa menjadi jangkar emosional—sesuatu yang familiar dan stabil—yang terus dipertahankan bahkan setelah masa sulit berlalu.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
