Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Desember 2025, 21.25 WIB

Orang yang Makan Berlebihan Selama Liburan Natal Biasanya Menunjukkan 10 Ciri Khas Berikut Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang makan berlebihan selama natal


JawaPos.com - Liburan Natal selalu identik dengan kehangatan keluarga, meja makan yang penuh, dan suasana penuh nostalgia. Kue-kue manis, hidangan bersantan, daging panggang, hingga aneka camilan seolah menjadi bahasa cinta yang tak terucap. Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa sebagian orang cenderung makan jauh lebih banyak dari biasanya saat Natal tiba?

Dalam psikologi, perilaku makan berlebihan selama momen liburan bukan sekadar soal “lapar mata” atau kurangnya kontrol diri. Di baliknya, sering kali tersimpan pola emosional, kebiasaan mental, hingga kebutuhan psikologis yang lebih dalam. Menariknya, mereka yang makan berlebihan saat liburan Natal kerap menunjukkan ciri-ciri tertentu yang berulang.

Dilansir dari Geediting pada Senin (29/12), terdapat 10 ciri khas yang umumnya dimiliki orang yang makan berlebihan selama liburan Natal, menurut sudut pandang psikologi.
 
Baca Juga: 7 Hal yang Terjadi pada Otak Anda Ketika Anda Tidak Mendapatkan Cukup Waktu Sendirian Menurut Psikologi

1. Sangat Mengaitkan Makanan dengan Kenangan Emosional


Bagi mereka, makanan Natal bukan sekadar asupan fisik, melainkan pintu menuju memori masa kecil, kehangatan orang tua, atau kebersamaan yang pernah hilang. Setiap suapan menjadi cara untuk “menghidupkan kembali” perasaan aman dan dicintai. Psikologi menyebut ini sebagai emotional association, di mana makanan berfungsi sebagai jangkar emosi.

2. Menggunakan Makanan sebagai Pengatur Emosi

Stres akhir tahun, tekanan pekerjaan, atau rasa lelah emosional sering kali memuncak menjelang liburan. Orang dengan kecenderungan makan berlebihan kerap menggunakan makanan sebagai alat menenangkan diri. Saat perasaan cemas atau kosong muncul, makan menjadi pelarian yang cepat dan mudah diakses.
 
Baca Juga: 9 Tanda Bahwa Anda Sebenarnya Lebih Siap Menghadapi Pensiun daripada 90% Orang Lain Menurut Psikologi

3. Sulit Mengatakan “Tidak” dalam Situasi Sosial


Saat keluarga atau kerabat menawarkan makanan, mereka merasa tidak enak menolak. Ada kebutuhan kuat untuk menjaga harmoni sosial dan menghindari konflik kecil. Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan people-pleasing tendency, yaitu kecenderungan mengorbankan kebutuhan pribadi demi diterima lingkungan.

4. Memiliki Pola Pikir “Sekali Setahun”


Kalimat seperti “Natal cuma setahun sekali” atau “habis ini bisa diet lagi” menjadi pembenaran internal. Pola pikir ini membuat batasan diri melemah. Psikologi menyebutnya sebagai licensing effect, yaitu ketika seseorang memberi izin pada diri sendiri untuk berperilaku berlebihan karena merasa ada alasan yang sah.
 
Baca Juga: Hubungan Terbahagia dalam Hidup Anda Akan Terjalin dengan Pria yang Menunjukkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

5. Cenderung Perfeksionis di Hari Biasa


Menariknya, banyak dari mereka justru sangat disiplin soal makan di hari normal. Natal menjadi momen pelepasan kontrol total. Ketika kontrol terlalu ketat dalam jangka panjang, otak akan mencari kompensasi, dan liburan menjadi waktu “balas dendam” secara tidak sadar.

6. Sensitif terhadap Isyarat Visual Makanan


Meja penuh hidangan, aroma masakan, dan tampilan kue Natal yang menggoda sangat memengaruhi mereka. Psikologi perilaku menunjukkan bahwa sebagian orang lebih responsif terhadap external cues dibanding sinyal lapar internal, sehingga makan terus berlanjut meski tubuh sebenarnya sudah kenyang.

7. Merasa Makan adalah Bentuk Penghargaan Diri


Setelah setahun bekerja keras, mereka merasa pantas “memanjakan diri”. Makanan menjadi simbol hadiah atas usaha dan pengorbanan. Ini bukan hal buruk, namun tanpa kesadaran, pola ini bisa berubah menjadi konsumsi berlebihan yang dipicu rasa “aku layak mendapatkannya”.

8. Memiliki Hubungan Ambivalen dengan Rasa Bersalah

Setelah makan banyak, biasanya muncul rasa bersalah. Namun alih-alih menghentikan, rasa bersalah itu justru memicu makan lebih banyak sebagai bentuk pelarian emosi. Ini menciptakan siklus psikologis yang dikenal sebagai guilt-eating loop.

9. Sangat Menikmati Momen Kebersamaan


Tidak semua ciri bersifat negatif. Banyak dari mereka adalah pribadi hangat yang sangat menghargai kebersamaan. Makan bersama menjadi simbol koneksi, cinta, dan rasa memiliki. Dalam konteks ini, makan berlebihan bukan semata kelemahan, melainkan ekspresi kebutuhan relasional.

10. Cenderung Reflektif Setelah Liburan Usai


Setelah Natal berlalu, mereka sering merenung: tentang tubuh, kebiasaan, dan makna makan itu sendiri. Ada kesadaran yang muncul, meski terkadang disertai penyesalan. Sisi reflektif ini menunjukkan bahwa secara emosional, mereka sebenarnya cukup peka dan introspektif.

Kesimpulan: Bukan Soal Lemah, tapi Soal Manusiawi


Menurut psikologi, makan berlebihan selama liburan Natal jarang sekali disebabkan oleh kurangnya disiplin semata. Lebih sering, ia berakar pada emosi, kenangan, kebutuhan sosial, dan cara seseorang memaknai makanan dalam hidupnya.

Alih-alih menghakimi diri sendiri, memahami ciri-ciri ini justru bisa menjadi langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dengan makanan dan emosi. Natal pada akhirnya bukan tentang berapa banyak yang kita makan, melainkan bagaimana kita merasakan kehangatan, penerimaan, dan kedamaian—baik dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri.

Jika Anda melihat beberapa ciri ini pada diri Anda, ingatlah satu hal: itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa Anda manusia, dengan emosi dan cerita yang layak dipahami.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore