Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Januari 2026, 17.41 WIB

Orang yang Tidak Memiliki Teman Dekat untuk Diandalkan Biasanya Mengembangkan 8 Kebiasaan Bertahan Hidup Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki teman dekat./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang tidak memiliki teman dekat./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Tidak semua orang menjalani hidup dengan lingkaran pertemanan yang hangat dan bisa diandalkan.

Ada sebagian individu yang tumbuh, berjuang, dan bertahan tanpa kehadiran teman dekat yang benar-benar bisa dijadikan tempat bersandar.

Bukan karena mereka antisosial, melainkan karena pengalaman hidup—kecewa, dikhianati, ditinggalkan, atau terbiasa menghadapi segalanya sendirian.

Psikologi melihat kondisi ini bukan sebagai kelemahan semata, melainkan sebagai proses adaptasi.

Ketika seseorang tidak memiliki sistem dukungan sosial yang kuat, otak dan perilakunya akan membentuk strategi bertahan hidup. Strategi inilah yang kemudian muncul sebagai kebiasaan-kebiasaan khas.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (9/1), terdapat delapan kebiasaan bertahan hidup yang sering dikembangkan oleh orang-orang yang tidak memiliki teman dekat untuk diandalkan, menurut sudut pandang psikologi.

1. Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri Secara Berlebihan

Orang tanpa teman dekat belajar sejak dini bahwa harapan pada orang lain sering kali berujung kecewa. Akibatnya, mereka membangun kemandirian ekstrem.

Semua diusahakan sendiri: mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, hingga mengelola emosi.

Secara psikologis, ini disebut self-reliance coping. Kebiasaan ini membuat mereka tampak kuat dan tangguh, tetapi di sisi lain juga bisa membuat mereka kesulitan meminta bantuan, bahkan ketika benar-benar membutuhkannya.

2. Sangat Hati-Hati dalam Membuka Diri

Tanpa teman dekat, pengalaman emosional sering disimpan sendiri. Mereka menjadi selektif, bahkan tertutup, soal perasaan terdalam. Bukan karena tidak ingin dekat, tetapi karena takut kerentanan disalahgunakan.

Psikologi mengenal ini sebagai mekanisme perlindungan diri (emotional guarding). Mereka belajar bahwa membuka diri adalah risiko, sehingga hanya dilakukan jika benar-benar merasa aman—yang sayangnya jarang terjadi.

3. Menjadi Pengamat Sosial yang Tajam

Karena tidak larut dalam hubungan dekat, mereka justru berkembang menjadi pengamat yang sangat peka. Bahasa tubuh, perubahan nada suara, ekspresi kecil—semuanya diperhatikan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore