Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Januari 2026, 20.13 WIB

Orang yang Menjadi Lebih Bersyukur Seiring Bertambahnya Usia, Alih-alih Menyimpan Dendam, Biasanya Melakukan 10 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Seseorang yang lebih bersyukur seiring bertambahnya usia


JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, hidup pelan-pelan mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua hal layak diperjuangkan, dan tidak semua luka perlu terus disimpan. Banyak orang muda mengira kebahagiaan datang dari kemenangan, pembuktian, atau balas dendam yang manis. Namun mereka yang telah melewati cukup banyak fase hidup justru menemukan ketenangan dari arah yang berlawanan—rasa syukur.

Psikologi modern menunjukkan bahwa orang yang semakin dewasa secara emosional cenderung memilih bersyukur daripada menyimpan dendam. Bukan karena mereka tidak pernah disakiti, melainkan karena mereka belajar bahwa menyimpan kemarahan hanya akan melelahkan diri sendiri. Menariknya, pilihan batin ini tercermin dalam perilaku sehari-hari yang cukup konsisten.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (13/1), terdapat 10 perilaku yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang menjadi lebih bersyukur seiring bertambahnya usia, menurut sudut pandang psikologi.

Baca Juga: 7 Perilaku di Media Sosial Ini Membuat Orang Langsung Tidak Menyukai Anda di Kehidupan Nyata Menurut Psikologi

1. Mereka Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Harus Memahami Mereka


Orang yang menyimpan dendam sering kali terjebak pada keinginan untuk dimengerti, diakui, atau dibenarkan. Sebaliknya, orang yang bersyukur belajar menerima satu kenyataan penting: tidak semua orang mampu atau mau memahami sudut pandang kita.

Psikologi menyebut ini sebagai emotional acceptance. Dengan menerima keterbatasan orang lain, mereka membebaskan diri dari ekspektasi berlebihan yang sering menjadi sumber kekecewaan dan kemarahan.

2. Mereka Lebih Fokus pada Respons, Bukan Reaksi


Seiring usia, seseorang belajar membedakan antara reaksi spontan dan respons yang disadari. Orang yang bersyukur cenderung berhenti sejenak sebelum bertindak, terutama saat dipicu oleh emosi negatif.

Dalam psikologi, kemampuan ini berkaitan dengan regulasi emosi dan kematangan prefrontal cortex. Mereka memahami bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi dengan ledakan emosi—banyak masalah justru selesai dengan keheningan yang bijak.

Baca Juga: Orang yang Membersihkan Peralatan Gym Setelah Menggunakannya Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

3. Mereka Tidak Mengulang Cerita Luka Lama Berulang-ulang

Salah satu ciri orang yang masih menyimpan dendam adalah kebiasaan menceritakan kembali luka lama dengan emosi yang sama, seolah kejadian itu baru saja terjadi.

Orang yang lebih bersyukur memilih jalan berbeda. Mereka mungkin mengingat, tetapi tidak terus menghidupkan kembali rasa sakitnya. Psikologi menyebut ini sebagai adaptive memory processing—mengingat untuk belajar, bukan untuk terluka kembali.

4. Mereka Menghargai Kedamaian Lebih dari Pembenaran


Pada usia tertentu, banyak orang menyadari bahwa menjadi “benar” tidak selalu membuat hidup lebih tenang. Orang yang bersyukur lebih memilih kedamaian batin daripada menang dalam perdebatan.

Ini berkaitan dengan pergeseran nilai internal: dari ego-oriented menjadi well-being-oriented. Mereka paham bahwa ketenangan jiwa jauh lebih berharga daripada validasi sesaat.

5. Mereka Memaafkan Tanpa Menunggu Permintaan Maaf


Salah satu tanda kematangan emosional adalah kemampuan memaafkan tanpa syarat eksternal. Orang yang bersyukur tidak menunggu orang lain berubah atau mengakui kesalahan terlebih dahulu.

Dalam psikologi, memaafkan lebih dilihat sebagai proses penyembuhan diri, bukan hadiah untuk pelaku. Mereka melepaskan beban bukan karena orang lain layak, tetapi karena diri mereka pantas untuk damai.

6. Mereka Menyadari Bahwa Setiap Orang Bertarung dengan Lukanya Sendiri


Pengalaman hidup membuat seseorang lebih empatik. Orang yang bersyukur memahami bahwa perilaku menyakitkan sering lahir dari luka yang tidak terlihat.

Kesadaran ini tidak membenarkan perlakuan buruk, tetapi membantu mengurangi kebencian. Psikologi menyebutnya sebagai perspective-taking, kemampuan melihat dunia dari sudut pandang orang lain.

7. Mereka Lebih Sering Menghitung Berkah daripada Kerugian


Alih-alih fokus pada apa yang diambil hidup dari mereka, orang yang bersyukur terbiasa menghitung apa yang masih mereka miliki. Kebiasaan ini bukan naif, melainkan strategi mental yang sehat.

Banyak studi psikologi positif menunjukkan bahwa praktik syukur secara konsisten dapat menurunkan stres, depresi, dan kecenderungan menyimpan dendam jangka panjang.

8. Mereka Menetapkan Batasan Tanpa Perlu Membenci


Menjadi bersyukur bukan berarti membiarkan diri disakiti berulang kali. Orang yang matang secara emosional mampu menetapkan batasan yang jelas tanpa disertai kebencian.

Psikologi menyebut ini sebagai healthy boundary setting. Mereka menjauh bukan karena dendam, tetapi karena menghargai kesehatan mental dan emosional diri sendiri.

9. Mereka Memahami Bahwa Waktu Lebih Berharga daripada Energi Negatif


Seiring bertambahnya usia, perspektif tentang waktu berubah. Orang yang bersyukur menyadari bahwa energi hidup terbatas dan terlalu berharga untuk dihabiskan pada kemarahan yang berkepanjangan.

Kesadaran ini membuat mereka lebih selektif dalam memilih konflik mana yang layak diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

10. Mereka Melihat Masa Lalu sebagai Guru, Bukan Penjara


Perilaku terakhir ini menjadi inti dari semuanya. Orang yang bersyukur tidak menghapus masa lalu, tetapi juga tidak tinggal di sana. Mereka mengambil pelajaran, lalu melangkah maju.

Dalam psikologi perkembangan, ini disebut sebagai integrated life narrative—kemampuan melihat pengalaman pahit sebagai bagian dari cerita hidup yang membentuk, bukan menghancurkan.

Penutup: Syukur Adalah Tanda Kematangan, Bukan Kepasrahan


Menjadi lebih bersyukur seiring bertambahnya usia bukan berarti hidup semakin mudah atau luka semakin sedikit. Justru sebaliknya—itu tanda bahwa seseorang telah cukup banyak terluka, cukup banyak belajar, dan akhirnya memilih cara yang lebih sehat untuk bertahan.

Psikologi menunjukkan bahwa melepaskan dendam bukan kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan emosional yang tinggi. Mereka yang memilih syukur memahami satu hal sederhana namun mendalam: kedamaian batin tidak datang dari mengubah masa lalu, tetapi dari mengubah cara kita memaknainya.
 
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore