
seseorang yang masih mengenakan jam tangan./Freepik/pressfoto
JawaPos.com - Di era ketika hampir setiap orang menggantungkan hidupnya pada ponsel pintar, sebuah kebiasaan sederhana justru terasa semakin asing: mengenakan jam tangan untuk melihat waktu.
Kini, mengangkat pergelangan tangan bukan lagi refleks utama. Kebanyakan orang langsung meraih ponsel—bahkan saat hanya ingin tahu jam berapa sekarang.
Namun menurut psikologi, mereka yang masih setia memakai jam tangan dan tidak otomatis memeriksa ponsel biasanya bukan sekadar “old school”.
Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini mencerminkan kualitas mental dan emosional tertentu yang kian jarang ditemukan di tengah dunia serba digital.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (14/1), terdapat tujuh ciri yang sering dimiliki orang-orang tersebut—ciri yang perlahan menjadi langka.
1. Memiliki Kesadaran Waktu yang Lebih Sehat
Orang yang mengenakan jam tangan cenderung memandang waktu sebagai alat bantu, bukan sumber tekanan. Mereka melihat waktu untuk mengatur aktivitas, bukan untuk dikejar-kejar notifikasi.
Secara psikologis, ini menunjukkan time awareness yang stabil. Mereka tidak terus-menerus membandingkan diri dengan ritme orang lain, melainkan fokus pada alur hidupnya sendiri. Akibatnya, mereka lebih jarang merasa terburu-buru tanpa alasan jelas.
2. Lebih Mampu Menjaga Fokus dan Perhatian
Memeriksa jam tangan hanya memberi satu informasi: waktu. Berbeda dengan ponsel yang membuka pintu ke pesan, media sosial, berita, dan distraksi lain.
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa menghindari pemicu distraksi kecil membantu otak mempertahankan fokus lebih lama.
Orang-orang ini biasanya memiliki kemampuan attention control yang lebih baik, sesuatu yang semakin sulit dimiliki di era multitasking ekstrem.
3. Menghargai Batas antara Dunia Digital dan Nyata
Jam tangan tidak bergetar karena pesan, tidak menampilkan komentar, dan tidak menarik perhatian terus-menerus. Memilih jam tangan berarti secara sadar menjaga jarak dari arus digital yang tak pernah berhenti.
Ini mencerminkan kecerdasan emosional: kemampuan menetapkan batas. Mereka tahu kapan harus terhubung, dan kapan cukup hadir sepenuhnya di dunia nyata—bersama orang di hadapannya, bukan layar di tangannya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
