Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Januari 2026, 05.30 WIB

Psikologi Ungkap 9 Ciri Orang yang Rajin Journaling dan Jarang Dimiliki Banyak Orang

Ilustrasi ciri orang yang rajin journaling dan jarang dimiliki banyak orang (Geediting) - Image

Ilustrasi ciri orang yang rajin journaling dan jarang dimiliki banyak orang (Geediting)

JawaPos.com - Journaling kini kembali diminati sebagai bentuk perawatan diri dan refleksi batin. Di tengah dunia serba cepat dan digital, aktivitas sederhana ini justru memberi ruang bagi pikiran untuk melambat, bernapas, dan benar-benar hadir pada diri sendiri.

Menurut kajian psikologi, orang yang rutin melakukan journaling tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga mengembangkan kualitas batin yang mendalam—bahkan sering kali lebih kuat dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan terapi atau diskusi verbal.

Dikutip dari laman Global English Editing, Rabu (14/01), berikut sembilan karakter unik yang dimiliki orang yang rajin journaling.

1. Mampu Duduk Bersama Pikiran Tanpa Bereaksi Berlebihan

Journaling memaksa pikiran melambat. Jeda kecil tercipta antara sebuah pikiran dan dorongan untuk bertindak.

Dari sinilah lahir kemampuan mengamati emosi tanpa langsung terjebak di dalamnya. Ini adalah dasar dari pengendalian emosi yang sehat.

2. Lebih Jujur Terhadap Diri Sendiri

Tidak ada penonton, tidak ada tekanan tampil sempurna. Journaling mengundang kejujuran.

Tanpa disadari, seseorang lebih berani mengakui rasa takut, marah, atau harapan terdalamnya. Ini memperkuat kesadaran diri dan membantu memahami pola emosi pribadi.

3. Memproses Emosi Lewat Tubuh, Bukan Hanya Pikiran

Aktivitas menulis saat journaling melibatkan sistem saraf. Emosi tidak hanya dipikirkan, tetapi juga “dirasakan” dan dilepaskan.

Itulah sebabnya journaling sering digunakan dalam pendekatan penyembuhan trauma dan regulasi emosi.

4. Nyaman dengan Ketidakpastian dan Kompleksitas

Dalam journaling, kontradiksi boleh hidup berdampingan. Tidak semua perasaan harus segera diberi label. Orang yang rajin journaling belajar menerima ambiguitas, sebuah tanda kedewasaan emosional.

5. Mampu Menenangkan Diri Tanpa Validasi Eksternal

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore