Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Januari 2026, 04.50 WIB

Orang yang Pernah Menderita Secara Mendalam Sering Mengembangkan 7 Kualitas Jiwa yang Baik Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berhasil bangkit dari penderitaan yang mendalam./Freepik/freepik - Image

seseorang yang berhasil bangkit dari penderitaan yang mendalam./Freepik/freepik

JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat. Ada penderitaan yang tidak meninggalkan bekas di tubuh, tetapi menetap lama di jiwa.

Psikologi modern sepakat bahwa penderitaan mendalam—entah karena kehilangan, kegagalan, penolakan, trauma, atau fase hidup yang berat—bukan hanya meninggalkan rasa sakit.

Pada banyak orang, pengalaman itu justru membentuk kualitas batin yang jarang dimiliki mereka yang hidupnya selalu mulus.

Bukan berarti penderitaan itu indah atau perlu dicari. Namun, ketika seseorang berhasil bertahan dan tumbuh darinya, sering kali lahir kualitas jiwa yang matang, tenang, dan penuh makna.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (21/1), terdapat tujuh kualitas jiwa baik yang menurut psikologi kerap berkembang pada orang-orang yang telah melewati penderitaan mendalam.

1. Empati yang Dalam dan Tulus

Orang yang pernah benar-benar terluka tahu rasanya berada di titik terendah. Mereka memahami rasa takut, putus asa, dan kesepian bukan sebagai konsep, melainkan sebagai pengalaman nyata.

Psikologi menyebut ini sebagai empathetic understanding—kemampuan memahami emosi orang lain tanpa perlu banyak penjelasan.

Mereka tidak terburu-buru menghakimi, tidak meremehkan kesedihan orang lain, dan jarang berkata, “Ah, itu kan sepele.” Empati mereka lahir dari luka yang pernah mereka rasakan sendiri.

2. Ketangguhan Mental (Resilience)

Menderita secara mendalam sering kali memaksa seseorang menghadapi kenyataan paling pahit: hidup tidak selalu adil. Namun, dari sanalah ketangguhan mental terbentuk.

Orang-orang ini mungkin pernah hancur, tetapi mereka tahu bahwa kehancuran bukan akhir. Psikologi menyebut proses ini sebagai post-traumatic growth—pertumbuhan psikologis setelah trauma.

Mereka belajar bahwa meski hidup bisa menjatuhkan, mereka memiliki kapasitas untuk bangkit kembali, bahkan dengan cara yang lebih kuat dan bijaksana.

3. Kerendahan Hati yang Autentik

Penderitaan menghancurkan ilusi bahwa kita selalu kuat, selalu benar, atau selalu bisa mengendalikan segalanya. Dari situ lahirlah kerendahan hati yang bukan dibuat-buat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore