Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Januari 2026, 05.06 WIB

Orang yang Hampir Tidak Berkomunikasi dengan Saudara Kandungnya Biasanya Memiliki 9 Pengalaman Masa Kecil yang Unik Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak berkomunikasi dengan saudara kandung./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang tidak berkomunikasi dengan saudara kandung./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Hubungan dengan saudara kandung sering dianggap sebagai ikatan terpanjang dalam hidup seseorang.

Sejak kecil hingga dewasa, saudara kandung menjadi saksi tumbuh kembang kita—dari pertengkaran sepele, tawa tanpa alasan, hingga rahasia yang hanya dipahami berdua. Namun, tidak semua orang tumbuh dengan hubungan yang hangat bersama saudara kandungnya.

Dalam praktik psikologi, orang yang jarang atau hampir tidak berkomunikasi dengan saudara kandungnya saat dewasa sering kali bukan karena kebencian semata, melainkan karena rangkaian pengalaman masa kecil yang membentuk cara mereka memandang hubungan, emosi, dan batasan diri.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (21/1), terdapat 9 pengalaman masa kecil yang unik yang sering ditemukan pada mereka yang tumbuh menjadi individu dengan jarak emosional terhadap saudara kandungnya.

1. Tumbuh dalam Lingkungan yang Minim Keamanan Emosional

Anak yang dibesarkan di rumah dengan konflik tinggi, komunikasi keras, atau emosi yang tidak stabil sering belajar satu hal sejak dini: menjaga jarak adalah cara bertahan.

Alih-alih menjadikan saudara kandung sebagai tempat berlindung, mereka justru belajar menutup diri. Akibatnya, ikatan emosional tidak pernah benar-benar terbentuk, dan kebiasaan menjaga jarak ini terbawa hingga dewasa.

2. Sering Dibanding-bandingkan oleh Orang Tua

Perbandingan seperti “kenapa tidak bisa seperti kakakmu?” atau “adikmu lebih penurut” tampak sepele, tetapi dampaknya mendalam.

Dalam psikologi, perbandingan kronis dapat memicu rivalitas tersembunyi, rasa tidak cukup, dan luka harga diri. Anak akhirnya melihat saudara kandung bukan sebagai rekan, melainkan sebagai ancaman emosional. Ketika dewasa, menjauh terasa lebih aman daripada menghidupkan kembali luka lama.

3. Terpaksa Dewasa Lebih Cepat dari Usianya

Banyak orang yang jarang berkomunikasi dengan saudara kandungnya adalah mereka yang dulu dipaksa menjadi “anak dewasa”—menjadi penengah konflik, pengasuh adik, atau penopang emosi keluarga.

Ketika masa kecil dihabiskan untuk bertanggung jawab, hubungan saudara berubah menjadi beban, bukan ikatan. Jarak di usia dewasa sering kali merupakan bentuk kelelahan emosional yang tertunda.

4. Tidak Pernah Diajarkan Cara Mengekspresikan Emosi

Sebagian keluarga menanamkan pesan implisit seperti “jangan cengeng”, “diam saja”, atau “masalah keluarga tidak perlu dibicarakan”.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore