Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Januari 2026, 22.50 WIB

Jika Anda Ingin Berhenti Bersikap Negatif Sepanjang Waktu, Mulailah dengan Menghilangkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berhenti bersikap negatif./Freepik/user15503477 - Image

seseorang yang berhenti bersikap negatif./Freepik/user15503477

JawaPos.com - Pernah merasa seperti apa pun yang terjadi, pikiran Anda selalu condong ke sisi yang gelap?

Sedikit kesalahan terasa seperti bencana. Komentar kecil terdengar seperti serangan. Hari yang biasa saja pun terasa melelahkan secara emosional.

Bersikap negatif terus-menerus bukan berarti Anda orang yang buruk — sering kali itu hanyalah pola mental yang terbentuk perlahan karena kebiasaan, pengalaman masa lalu, dan cara kita menafsirkan dunia.

Kabar baiknya, psikologi menunjukkan bahwa pola ini bisa diubah. Kuncinya bukan langsung “jadi orang positif”, tapi berhenti memelihara perilaku-perilaku kecil yang diam-diam memperkuat sudut pandang negatif.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (24/1), jika Anda ingin hidup terasa lebih ringan dan pikiran tidak terus-menerus terasa berat, mulailah dengan menghilangkan 8 perilaku ini.

1. Terlalu Sering Mengeluh Tanpa Mencari Solusi

Mengeluh itu manusiawi. Tapi ketika mengeluh menjadi respons otomatis untuk hampir semua hal, otak Anda mulai terlatih untuk hanya fokus pada apa yang salah.

Dalam psikologi kognitif, perhatian adalah seperti sorotan lampu. Apa yang sering Anda soroti akan terasa lebih besar dari kenyataannya. Jika setiap hari Anda mengulang keluhan yang sama tanpa tindakan, Anda sedang memperkuat jalur pikiran negatif di otak.

Bukan berarti Anda harus memendam perasaan. Bedanya ada di langkah setelahnya:
Apakah Anda hanya mengulang keluhan, atau mulai bertanya, “Oke, apa yang bisa saya lakukan sedikit saja untuk memperbaiki ini?”

2. Mengasumsikan Niat Buruk dari Orang Lain

Orang tidak membalas chat? Anda langsung berpikir mereka marah.
Teman terlihat dingin? Anda merasa dibenci.

Ini disebut negative interpretation bias — kecenderungan menafsirkan situasi ambigu dengan makna negatif. Padahal, sering kali orang lain hanya sibuk, lelah, atau sedang menghadapi urusan pribadi.

Kebiasaan ini melelahkan karena Anda hidup dalam dunia yang terasa penuh ancaman sosial. Perlahan, Anda jadi defensif, mudah tersinggung, dan sulit percaya.

Belajar memberi “manfaat keraguan” pada orang lain bukan berarti naif — itu cara menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

3. Terus Membandingkan Diri Secara Tidak Sehat

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore