Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Januari 2026, 20.42 WIB

8 Hal Sepele yang Sering Ditinggalkan Orang Saat Pindah ke Tempat yang 'Lebih Bagus' Menurut Psikologi

seseorang yang meninggalkan hal-hal buruk saat pindah ke tempat baru./Freepik/tirachardz - Image

seseorang yang meninggalkan hal-hal buruk saat pindah ke tempat baru./Freepik/tirachardz

JawaPos.com - Dalam hidup, berpindah ke tempat yang dianggap lebih bagus—entah itu lingkungan kerja, kota, lingkar pertemanan, atau status sosial—sering dipandang sebagai tanda kemajuan.

Secara lahiriah, perubahan ini terlihat positif: fasilitas lebih lengkap, orang-orang lebih “berkualitas”, peluang lebih besar.

Namun, menurut psikologi, proses naik kelas ini hampir selalu disertai kehilangan-hal kecil yang jarang disadari, tetapi berdampak besar pada kesehatan mental dan identitas diri.

Dilansir dari Geediting pada Senin (26/1), terdapat delapan hal sepele yang kerap ditinggalkan orang saat berpindah ke tempat yang “lebih bagus”, dilihat dari sudut pandang psikologi.

1. Rasa Aman untuk Menjadi Diri Sendiri

Di tempat lama, seseorang biasanya tidak perlu terlalu memikirkan cara berbicara, berpakaian, atau berekspresi.

Ada rasa aman karena sudah diterima apa adanya. Saat pindah ke lingkungan yang “lebih bagus”, standar sosial sering kali lebih tinggi dan tidak tertulis.

Menurut psikologi sosial, manusia cenderung melakukan self-monitoring berlebihan di lingkungan baru yang dianggap superior. Akibatnya, orang mulai menyensor diri sendiri. Bukan karena ingin, tapi karena takut terlihat “tidak pantas”.

Tanpa sadar, rasa aman untuk menjadi diri sendiri perlahan menghilang.

2. Kebebasan Melakukan Kesalahan Kecil

Di lingkungan lama, kesalahan kecil sering dimaklumi. Lupa, ceroboh, atau tidak tahu sesuatu masih dianggap wajar. Namun di tempat yang “lebih bagus”, kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar.

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa tekanan performa tinggi meningkatkan fear of failure. Orang menjadi lebih kaku, perfeksionis, dan sulit menikmati proses belajar. Padahal, ruang untuk salah adalah fondasi pertumbuhan psikologis yang sehat.

Yang hilang bukan hanya toleransi orang lain, tapi juga toleransi terhadap diri sendiri.

3. Hubungan yang Tidak Transaksional

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore