Logo JawaPos
Author avatar - Image
31 Januari 2026, 06.32 WIB

Orang yang Selalu Membayangkan Skenario Terburuk Sering Kali Mengalami 8 Pengalaman Ini di Masa Kanak-Kanak Menurut Psikologi

seseorang yang selalu membayangkan skenario terburuk./ Freepik/stockking - Image

seseorang yang selalu membayangkan skenario terburuk./ Freepik/stockking

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa pikiranmu otomatis melompat ke kemungkinan terburuk, bahkan sebelum sesuatu benar-benar terjadi? Baru menerima pesan singkat saja sudah membayangkan konflik besar.

Baru akan memulai sesuatu, tapi bayangan kegagalan terasa begitu nyata. Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai catastrophizing—kecenderungan membayangkan hasil paling buruk dari sebuah situasi.

Menariknya, pola pikir ini jarang muncul begitu saja. Banyak penelitian dan pendekatan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kebiasaan membayangkan skenario terburuk sering berakar pada pengalaman masa kanak-kanak.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat delapan pengalaman yang kerap dialami di masa kecil oleh orang-orang yang tumbuh dengan kecenderungan tersebut.

1. Lingkungan yang Tidak Konsisten dan Sulit Diprediksi

Anak-anak membutuhkan rasa aman melalui rutinitas dan kepastian. Ketika mereka tumbuh di lingkungan yang penuh ketidakpastian—orang tua yang suasana hatinya berubah-ubah, konflik rumah tangga, atau kondisi ekonomi yang tidak stabil—otak anak belajar satu hal: selalu bersiap untuk yang terburuk.

Sebagai mekanisme bertahan hidup, anak mulai memindai lingkungan untuk mencari tanda bahaya. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa, membuat mereka terus-menerus mengantisipasi kemungkinan terburuk meskipun situasinya relatif aman.

2. Terlalu Sering Disalahkan atau Dikritik

Anak yang sering disalahkan, dipermalukan, atau dikritik secara berlebihan akan tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan kecil bisa berujung pada konsekuensi besar. Mereka belajar bahwa kegagalan bukan sekadar pengalaman belajar, melainkan sesuatu yang “berbahaya”.

Akibatnya, saat dewasa, mereka cenderung membayangkan skenario terburuk sebagai bentuk perlindungan diri: “Kalau aku sudah siap dengan yang paling buruk, setidaknya aku tidak akan terlalu sakit hati.”

3. Kurangnya Validasi Emosional

Banyak orang tumbuh dengan kalimat seperti:

“Ah, itu lebay.”

“Jangan cengeng.”

“Perasaan kamu nggak penting.”

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore