
seseorang yang masih membaca koran fisik./Freepik/cookie_studio
JawaPos.com - Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan berita yang bisa diakses hanya dengan menggeser layar, membaca koran fisik terlihat seperti kebiasaan yang "ketinggalan zaman".
Namun, psikologi justru melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang menarik dan bermakna.
Orang-orang yang masih setia membaca koran cetak bukan sekadar menolak teknologi. Dalam banyak kasus, mereka menunjukkan kualitas psikologis tertentu yang semakin langka di era digital.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (28/1), terdapat sembilan kualitas yang sering ditemukan pada mereka, berdasarkan perspektif psikologi.
1. Kemampuan Fokus yang Lebih Kuat
Membaca koran fisik menuntut perhatian penuh. Tidak ada pop-up, iklan bergerak, atau notifikasi yang menyela. Secara psikologis, ini melatih sustained attention—kemampuan untuk mempertahankan fokus dalam waktu yang lama.
Penelitian menunjukkan bahwa membaca media cetak membantu otak memproses informasi secara lebih mendalam dibandingkan membaca di layar. Orang yang terbiasa membaca koran cenderung mampu berkonsentrasi lebih lama dan tidak mudah terdistraksi.
2. Kesabaran yang Lebih Tinggi
Berita di koran tidak diperbarui setiap menit. Pembacanya terbiasa menunggu edisi berikutnya untuk mengetahui perkembangan suatu peristiwa. Ini mencerminkan tingkat toleransi terhadap penundaan (delay tolerance) yang baik.
Dalam psikologi, kemampuan menunda kepuasan berkaitan erat dengan pengendalian diri dan kestabilan emosi—dua hal yang penting dalam kehidupan jangka panjang.
3. Pemikiran yang Lebih Mendalam dan Reflektif
Membaca koran sering dilakukan secara perlahan: duduk, membuka halaman, membaca artikel dari awal hingga akhir. Proses ini mendorong deep processing, yaitu pemahaman yang lebih analitis dan reflektif.
Berbeda dengan kebiasaan scrolling cepat, pembaca koran cenderung memikirkan konteks, latar belakang, dan implikasi sebuah berita.
4. Literasi Informasi yang Lebih Baik
Pembaca koran fisik biasanya terbiasa dengan struktur jurnalistik yang jelas: judul, lead, isi, dan sumber. Hal ini membantu mereka membedakan antara fakta, opini, dan spekulasi.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
