Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Februari 2026, 17.14 WIB

Orang yang Menjelajahi Media Sosial tetapi Jarang Berkomentar atau Memposting: 9 Ciri Kepribadian Menurut Psikologi

seseorang yang jarang memposting dan berkomentar di media sosial./Freepik/pressfoto - Image

seseorang yang jarang memposting dan berkomentar di media sosial./Freepik/pressfoto

JawaPos.com - Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kita mengenal berbagai tipe pengguna: ada yang aktif memposting, rajin berkomentar, suka berdiskusi, dan ada pula yang hanya "mengamati".

Mereka ini sering disebut sebagai silent users, lurkers, atau pengamat senyap — orang-orang yang aktif menjelajahi media sosial, membaca konten, melihat story, scrolling timeline, tetapi jarang (atau hampir tidak pernah) berkomentar, menyukai postingan, atau mengunggah konten.

Banyak orang mengira bahwa tipe ini pasif, tidak peduli, atau kurang percaya diri. Namun, psikologi memandangnya dengan cara yang jauh lebih dalam. Faktanya, kebiasaan ini sering kali mencerminkan karakter kepribadian tertentu yang justru kaya secara mental, emosional, dan kognitif.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (6/2), terdapat 9 ciri kepribadian yang sering dimiliki oleh orang-orang yang aktif di media sosial, tetapi jarang berinteraksi secara terbuka.

1. Reflektif dan Berpikir Mendalam

Mereka bukan sekadar membaca, tetapi merenungkan.

Orang yang jarang berkomentar biasanya lebih suka memproses informasi secara internal. Mereka menikmati mengamati pola, memahami sudut pandang orang lain, dan menarik kesimpulan sendiri tanpa harus mengekspresikannya secara publik.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan cognitive reflection — kemampuan untuk berpikir sebelum bereaksi, bukan sekadar merespons secara impulsif.

2. Tingkat Kesadaran Diri yang Tinggi (Self-Awareness)

Mereka tahu apa yang ingin dibagikan dan apa yang sebaiknya disimpan.

Tidak semua orang nyaman menjadikan hidupnya konsumsi publik. Individu ini biasanya memiliki batas pribadi yang jelas antara ruang privat dan ruang publik. Mereka sadar bahwa tidak semua pikiran, perasaan, dan pengalaman perlu divalidasi oleh orang lain.

Ini menunjukkan emotional maturity dan kontrol diri yang kuat.

3. Lebih Mengutamakan Privasi

Privasi adalah nilai, bukan ketakutan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore