Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Februari 2026, 00.59 WIB

Jika Seseorang Menjadi Lebih Pelit Seiring Bertambahnya Usia, 7 Ketakutan Ini Mungkin Menjadi Penyebabnya Menurut Psikologi

seseorang yang menjadi pelit seiring bertambahnya usia./Freepik/freepik - Image

seseorang yang menjadi pelit seiring bertambahnya usia./Freepik/freepik

JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak perubahan terjadi dalam kehidupan seseorang—baik secara fisik, emosional, sosial, maupun psikologis.

Salah satu perubahan perilaku yang cukup sering ditemui adalah kecenderungan menjadi lebih hemat berlebihan atau bahkan pelit. Jika pada usia muda seseorang cenderung lebih royal, spontan, dan mudah berbagi, maka di usia yang lebih matang sikap itu bisa berubah drastis.

Dalam perspektif psikologi, perilaku “pelit” bukan selalu tentang karakter buruk atau sifat egois semata.

Sering kali, itu adalah mekanisme perlindungan diri (self-protection mechanism) yang muncul dari berbagai ketakutan psikologis yang terpendam.

Ketakutan ini terbentuk dari pengalaman hidup, trauma masa lalu, tekanan ekonomi, hingga perubahan cara pandang terhadap hidup dan masa depan.

Dilansir dari Geediting pada Senin (9/2), terdapat 7 ketakutan psikologis yang menurut pendekatan psikologi dapat menjadi penyebab seseorang menjadi lebih pelit seiring bertambahnya usia:

1. Takut Kehabisan Uang di Masa Tua

Ini adalah ketakutan paling umum dan paling kuat. Semakin bertambah usia, seseorang semakin sadar bahwa kemampuan bekerja tidak akan selamanya sama. Energi menurun, peluang kerja berkurang, dan ketergantungan pada tabungan atau pensiun semakin besar.

Ketakutan ini memicu pola pikir:

“Bagaimana kalau nanti aku sakit?”
“Bagaimana kalau tabunganku tidak cukup?”
“Bagaimana kalau aku hidup lebih lama dari uangku?”

Akibatnya, seseorang mulai mengontrol pengeluaran secara ekstrem. Bukan lagi sekadar hemat, tetapi berubah menjadi takut mengeluarkan uang meskipun untuk kebutuhan yang sebenarnya wajar dan penting.

2. Trauma Finansial di Masa Lalu

Banyak orang membawa luka psikologis dari pengalaman finansial buruk: pernah bangkrut, tertipu, kehilangan usaha, di-PHK, hidup miskin ekstrem, atau tumbuh dalam keluarga serba kekurangan.

Dalam psikologi, ini disebut sebagai financial trauma. Trauma ini membentuk keyakinan bawah sadar bahwa:

“Uang bisa hilang kapan saja.”
“Tidak ada yang benar-benar aman.”
“Aku harus menahan segalanya.”

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore