Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Februari 2026, 20.56 WIB

7 Alasan Sebenarnya Mengapa Anda Lebih Mengingat Komentar Negatif daripada Pujian Menurut Psikologi

seseorang yang mengingat komentar negatif./Freepik/stockking

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda menerima sepuluh pujian, tetapi satu komentar negatif justru yang terus terngiang di kepala?
 
Fenomena ini sangat umum terjadi dan bukan karena Anda “terlalu sensitif” atau lemah mental. Menurut psikologi, otak manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk lebih fokus dan mengingat hal-hal negatif dibandingkan hal positif. 
 
Ini disebut sebagai negativity bias (bias negatif), dan ia memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan memaknai pengalaman hidup.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (10/2), terdapat 7 alasan psikologis mengapa komentar negatif jauh lebih membekas di ingatan daripada pujian:

1. Otak Manusia Diprogram untuk Bertahan Hidup, Bukan Bahagia


Secara evolusioner, otak manusia berkembang untuk mendeteksi ancaman, bukan untuk mengejar kebahagiaan. Pada masa purba, satu kesalahan kecil bisa berarti kematian: suara aneh di semak-semak bisa jadi predator, bukan angin. Karena itu, otak belajar memberi prioritas tinggi pada informasi yang berpotensi berbahaya atau mengancam.

Komentar negatif dipersepsikan otak sebagai “ancaman sosial”:

Ancaman terhadap harga diri

Ancaman terhadap status sosial

Ancaman terhadap penerimaan kelompok

Sementara pujian dianggap “aman”, komentar negatif dianggap “berisiko”, sehingga otak menyimpannya lebih kuat dalam memori.

2. Negativity Bias: Kecenderungan Alami Otak Manusia


Dalam psikologi, negativity bias adalah kecenderungan kognitif di mana:

Informasi negatif memiliki dampak emosional dan psikologis yang lebih kuat dibanding informasi positif dengan intensitas yang sama.

Artinya:

Satu kritik ≠ satu pujian

Dampak satu kritik bisa setara dengan 5–10 pujian secara emosional

Otak memproses emosi negatif lebih dalam, lebih lama, dan lebih detail. Inilah sebabnya komentar negatif:

Lebih mudah diingat

Lebih sering dipikirkan ulang

Lebih lama “tinggal” di pikiran

3. Komentar Negatif Mengaktifkan Emosi Kuat


Pujian biasanya memicu emosi positif ringan: senang, bangga, dihargai.
Komentar negatif memicu emosi yang jauh lebih intens:

Malu

Takut

Marah

Cemas

Sedih

Tidak aman

Emosi kuat → memori kuat.
Secara neurologis, emosi negatif mengaktifkan amigdala (pusat emosi) yang memperkuat penyimpanan memori di hippocampus. Akibatnya, komentar negatif “direkam” lebih tajam oleh otak.

4. Kritik Menyerang Identitas Diri, Bukan Sekadar Perilaku

Pujian sering dianggap sebagai komentar tentang hasil:

“Kerjamu bagus.”
“Presentasimu rapi.”

Sedangkan kritik sering ditafsirkan sebagai serangan terhadap identitas:

“Kamu memang nggak kompeten.”
“Kamu selalu gagal.”
“Kamu terlalu bodoh buat ini.”

Walau kalimatnya mungkin tidak sekeras itu, otak sering menerjemahkannya secara personal. Kritik terasa seperti:

Serangan terhadap nilai diri

Serangan terhadap harga diri

Serangan terhadap eksistensi sosial

Itulah sebabnya komentar negatif terasa lebih “menusuk” dan lebih sulit dilupakan.

5. Pikiran Manusia Cenderung Melakukan Overthinking Negatif


Komentar negatif jarang berhenti sebagai satu kalimat. Otak kita mengembangkannya menjadi narasi panjang:

“Mungkin dia benar…”

“Aku memang nggak cukup bagus.”

“Orang lain pasti juga berpikir begitu.”

“Aku pasti terlihat bodoh.”

Proses ini disebut rumination (perenungan obsesif).
Satu komentar kecil bisa berkembang menjadi dialog batin yang panjang dan berulang, sehingga memorinya semakin kuat.

Pujian jarang diproses sedalam ini. Biasanya hanya lewat:

“Oh, makasih.” → selesai.

6. Otak Lebih Fokus pada Kesalahan daripada Keberhasilan


Secara psikologis, manusia lebih terdorong untuk:

Memperbaiki kekurangan

Menghindari kesalahan

Mencegah kegagalan

daripada merayakan keberhasilan.

Karena itu:

Kritik dianggap sebagai “informasi penting”

Pujian dianggap sebagai “bonus emosional”

Otak memperlakukan komentar negatif sebagai data untuk bertahan hidup dan berkembang, sehingga menyimpannya lebih serius dibandingkan pujian.

7. Rasa Takut Akan Penolakan Sosial


Manusia adalah makhluk sosial. Sejak dulu, ditolak oleh kelompok = ancaman hidup. Otak kita masih membawa mekanisme ini sampai sekarang.

Komentar negatif sering diartikan sebagai sinyal:

“Aku tidak diterima”

“Aku tidak cukup layak”

“Aku bisa dikucilkan”

Ketakutan akan penolakan sosial ini membuat otak memberi perhatian ekstra pada kritik dan komentar negatif.

Kesimpulan Psikologis


Anda lebih mengingat komentar negatif bukan karena Anda lemah, baper, atau tidak bersyukur. Itu karena:

Otak manusia berevolusi untuk fokus pada ancaman

Emosi negatif diproses lebih dalam

Kritik terasa menyerang identitas diri

Pikiran manusia cenderung mengulang hal negatif

Otak memprioritaskan kesalahan daripada keberhasilan

Ketakutan sosial tertanam secara biologis

Semua ini adalah mekanisme alami otak manusia.

Penutup: Cara Menghadapi Bias Negatif Ini


Secara psikologis, kita tidak bisa menghilangkan bias ini sepenuhnya, tetapi bisa mengelolanya:

Sadari bahwa ini adalah mekanisme otak, bukan kebenaran mutlak

Seimbangkan dengan data nyata: tulis pujian yang Anda terima

Latih self-talk rasional: “Satu komentar bukan definisi diriku”

Pisahkan kritik terhadap perilaku dan identitas diri

Latih otak untuk menyimpan hal positif secara sadar

Karena kebenarannya:

Komentar negatif adalah opini orang.
Pujian adalah pengakuan real.
Identitas Anda tidak ditentukan oleh satu suara.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore