Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Februari 2026, 00.20 WIB

Jika Anda Mengenali 8 Frasa Ini dari Masa Kecil Anda, Berarti Anda Tumbuh di Rumah di Mana Emosi Tidak Pernah Dibahas Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh di rumah yang tidak membahas emosi


JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Sebagian tersembunyi dalam kalimat-kalimat yang terdengar “normal” saat itu—bahkan mungkin masih terngiang sampai sekarang. Dalam banyak keluarga, kebutuhan fisik terpenuhi, pendidikan diperhatikan, tetapi emosi jarang sekali dibicarakan secara terbuka.

Dalam psikologi, pola ini sering dikaitkan dengan konsep childhood emotional neglect (CEN) yang diperkenalkan oleh psikolog klinis Jonice Webb dalam bukunya Running on Empty. Intinya sederhana namun mendalam: bukan hanya apa yang terjadi pada anak yang membentuknya, tetapi juga apa yang tidak terjadi—terutama ketika perasaan anak tidak diperhatikan, tidak divalidasi, atau bahkan diabaikan.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (15/2), jika Anda mengenali beberapa frasa berikut dari masa kecil Anda, ada kemungkinan Anda tumbuh di rumah di mana emosi jarang dibahas secara sehat.

 
Baca Juga: Anak yang Terus-Menerus Dibandingkan dengan Saudara Kandung Mereka Saat Tumbuh Dewasa Sering Kali Menunjukkan 5 Ciri Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

1. “Sudah, jangan nangis.”


Kalimat ini mungkin diucapkan dengan niat menenangkan. Namun, bagi anak, pesan tersembunyinya bisa menjadi: perasaanmu tidak nyaman untuk dilihat.

Menurut teori perkembangan emosional, kemampuan anak untuk memahami dan mengatur emosinya berkembang ketika orang tua membantu menamai dan menerima perasaan tersebut. Ketika tangisan langsung dihentikan tanpa validasi, anak belajar bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus ditekan, bukan dipahami.

Dampaknya di masa dewasa?

Sulit mengenali apa yang sebenarnya dirasakan

Canggung ketika melihat orang lain menangis

Kebiasaan memendam masalah sendiri
 
Baca Juga: Orang yang Selalu Datang 10 Menit Lebih Awal Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Berikut Ini Menurut Psikologi

2. “Kamu terlalu sensitif.”


Frasa ini sering muncul ketika anak menunjukkan reaksi emosional yang kuat. Alih-alih membantu anak memahami intensitas emosinya, label ini membuat anak merasa ada yang salah dengan dirinya.

Dalam kerangka teori kelekatan (attachment theory) yang dipopulerkan oleh John Bowlby, respons emosional orang tua sangat memengaruhi rasa aman anak. Ketika reaksi emosional anak dianggap berlebihan, ia bisa mengembangkan rasa malu terhadap perasaannya sendiri.

Sebagai orang dewasa, ini bisa muncul dalam bentuk:

Meragukan perasaan sendiri

Takut dianggap “lebay”

Menghindari konflik agar tidak terlihat emosional

3. “Ayah/Ibu melakukan ini demi kamu.”


Kalimat ini terdengar penuh pengorbanan. Namun, jika digunakan untuk membungkam perasaan anak, pesan yang tertanam adalah: kebutuhan emosionalmu tidak sepenting pengorbanan orang tua.

Anak kemudian belajar memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, ini bisa membentuk pola people-pleasing dan kesulitan menetapkan batasan (boundaries).

4. “Masalah seperti ini saja kok dibesar-besarkan?”

Bagi orang dewasa, masalah anak mungkin tampak sepele. Namun, bagi anak, pengalaman itu nyata dan signifikan.

Psikolog perkembangan seperti Erik Erikson menekankan bahwa setiap tahap perkembangan memiliki krisis psikososialnya sendiri. Mengecilkan masalah anak berarti mengecilkan proses perkembangan emosionalnya.

Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang:

Merasa bersalah saat merasa sedih

Menganggap kebutuhannya tidak penting

Sulit meminta bantuan

5. “Di keluarga ini tidak ada yang seperti itu.”

Kalimat ini sering muncul saat anak menunjukkan emosi seperti marah, takut, atau cemas.

Pesannya jelas: ada emosi yang “tidak boleh” ada dalam keluarga. Padahal, semua emosi adalah bagian alami dari pengalaman manusia.

Ketika emosi tertentu dilarang, anak belajar untuk menekannya. Penekanan emosi dalam jangka panjang sering dikaitkan dengan stres kronis, ledakan emosi tiba-tiba, atau bahkan kesulitan mengenali kebutuhan diri sendiri.

6. “Jangan bikin malu keluarga.”

Rasa malu menjadi alat kontrol emosional. Alih-alih diajarkan untuk memahami dampak perilakunya, anak diajarkan untuk takut pada penilaian sosial.

Ini bisa membentuk identitas yang sangat bergantung pada validasi eksternal. Di masa dewasa, individu mungkin:

Terobsesi dengan citra diri

Takut gagal atau membuat kesalahan

Menghindari risiko demi menjaga reputasi

7. “Sudah lupakan saja.”


Konflik selesai bukan karena dibahas, tetapi karena dihindari.

Dalam keluarga yang tidak membicarakan emosi, konflik jarang diproses secara terbuka. Tidak ada diskusi tentang apa yang dirasakan, hanya instruksi untuk move on.

Sebagai orang dewasa, pola ini dapat terlihat dalam:

Menghindari percakapan sulit

Menyimpan dendam tanpa disadari

Kesulitan menyelesaikan konflik secara sehat

8. “Yang penting kamu kuat.”

Ketahanan memang penting. Namun, jika “kuat” berarti tidak boleh menunjukkan emosi, anak belajar bahwa kerentanan adalah kelemahan.

Padahal, penelitian modern tentang kerentanan—yang banyak dipopulerkan oleh Brené Brown—menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengakui perasaan justru merupakan fondasi koneksi yang sehat.

Menjadi kuat bukan berarti tidak merasa apa-apa. Kekuatan emosional sejati justru datang dari kemampuan memahami, menerima, dan mengelola emosi dengan sehat.

Mengapa Ini Penting untuk Disadari?


Banyak orang tumbuh di rumah yang secara fisik aman dan secara materi cukup, tetapi secara emosional hening. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada trauma ekstrem—hanya kekosongan dalam percakapan tentang perasaan.

Dampaknya sering baru terasa ketika:

Hubungan terasa dangkal atau sulit intim

Emosi terasa membingungkan atau mati rasa

Ada perasaan hampa tanpa tahu penyebabnya

Kesadaran adalah langkah pertama. Anda tidak bisa mengubah masa kecil, tetapi Anda bisa belajar bahasa emosi yang mungkin tidak pernah diajarkan.

Beberapa langkah awal yang bisa dilakukan:

Belajar menamai emosi secara spesifik (bukan hanya “sedih” atau “marah”)

Memberi ruang pada perasaan tanpa langsung menghakimi

Melatih komunikasi asertif dalam hubungan

Mempertimbangkan terapi jika pola ini sangat memengaruhi kehidupan

Penutup

Jika Anda mengenali frasa-frasa di atas, itu bukan berarti orang tua Anda jahat atau tidak peduli. Banyak dari mereka mungkin juga dibesarkan dalam budaya yang tidak membicarakan emosi.

Namun, memahami pola ini memberi Anda kesempatan untuk memutus siklus tersebut.

Karena pada akhirnya, kesehatan emosional bukan tentang menjadi “tidak pernah lemah,” tetapi tentang berani berkata: “Ini yang saya rasakan, dan perasaan ini valid.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore